Page 670 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 670

http://pustaka-indo.blogspot.com
             Doktrin  ini  menegaskan  bahwa  karena  Tuhan  merupakan
             satu-satunya  realitas,  maka  yang  ada  hanyalah  dia,  dan
             dunia itu sendiri pada dasarnya ilahiah. Dia menyebutkan ini
             sambil  mengingatkan  bahwa  ini  merupakan  kebenaran
             esoterik  yang  hanya  bisa  dipahami  dalam  konteks  disiplin
             mistikal sufisme.


             Yang  lainnya  telah  membuat  Tuhan  lebih  terjangkau  oleh
             manusia  dan  relevan  dengan  tantangan  politik  di  masanya.
             Dalam  tahun-tahun  menjelang  revolusi  Iran,  seorang  filosof
             muda  Dr.  Ali  Syari‘ati  berhasil  menarik  sejumlah  besar
             kelompok kelas menengah terdidik. Dialah yang bertanggung
             jawab atas turutnya mereka menentang Syah, meskipun para
             mullah  tidak  menyetujui  sejumlah  misi  keagamaannya.
             Selama  demonstrasi,  kelompok  itu  sering  membawa
             potretnya bersama potret Ayatullah Khomeini, meski tidaklah
             jelas bagaimana dia bisa sejajar dengan Khomeini. Syari‘ati
             yakin  bahwa  westernisasi  telah  mengalienasikan  kaum
             Muslim  dari  akar  kebudayaan  mereka  dan  untuk
             menyembuhkan  penyakit  ini  mereka  harus  melakukan
             interpretasi  ulang  terhadap  simbol-simbol  lama  keimanan
             mereka.  Muhammad  telah  melakukan  hal  serupa  tatkala
             beliau memberi relevansi monoteistik kepada ritus haji kaum
             pagan  kuno.  Dalam  bukunya  Hajj,  Syari‘ati  membawa
             pembacanya  melalui  ziarah  ke  Makkah,  secara  perlahan
             mengartikulasikan  konsepsi  ketuhanan  dinamis  yang  secara
             imajinatif harus diciptakan oleh setiap peziarah untuk dirinya
             masing-masing. Dengan demikian, ketika mencapai Ka‘bah,
             jamaah haji akan menyadari mengapa tempat suci itu kosong:
             “Ini  bukanlah  tujuan  terakhirmu;  Ka‘bah  hanyalah  sebuah
             tanda  agar  engkau  tidak  salah  jalan;  Ka‘bah  hanya
                                          10
             menunjukkan  arah  kepadamu.”   Ka‘bah  menjadi  saksi
             pentingnya  kita  mentransendensi  seluruh  ungkapan  manusia
             tentang  yang  ilahi,  yang  tidak  boleh  menjadi  tujuan  akhir.



                            ~663~ (pustaka-indo)
   665   666   667   668   669   670   671   672   673   674   675