Page 674 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 674
http://pustaka-indo.blogspot.com
dipertanyakan karena keterkaitannya dengan Nazi. Dalam
What is Metaphysics?, kuliah penobatannya di Freiburg,
Heidegger mengembangkan sejumlah gagasan yang pernah
muncul dalam karya Plotinus, Denys dan Erigena. Karena
Wujud itu “Sama Sekali Berbeda”, ia sebenarnya Tiada—
tidak ada, bukan objek maupun wujud partikular. Akan tetapi,
dialah yang membuat semua eksistensi lain menjadi mungkin.
Orang kuno telah meyakini bahwa ketiadaan hanya
melahirkan ketiadaan, namun Heidegger mengubah
ungkapan itu menjadi: ex nihilo omne qua ens fit. Dia
mengakhiri kuliahnya dengan mengajukan pertanyaan yang
pernah ditanyakan Leibniz: “Mengapa harus ada, bukannya
tiada?” Inilah pertanyaan yang membangkitkan rasa takjub
dan kagum yang selalu muncul dalam respons manusia
terhadap alam: mengapa semua ini mesti ada? Dalam
bukunya Introduction to Metaphysics (1953), Heidegger
mengawali dengan mengajukan pertanyaan yang sama.
Teologi merasa yakin memiliki jawabannya dan
mengembalikan segalanya kepada Sesuatu Yang lain, kepada
Tuhan. Namun, Tuhan ini hanya merupakan wujud lain
bukannya sesuatu yang sepenuhnya berbeda. Heidegger
memiliki gagasan yang agak reduktif tentang Tuhan agama—
meskipun banyak orang beragama ikut menyepakatinya—
tetapi dia sering berbicara tentang Wujud dalam terma
mistikal. Dia membicarakannya sebagai sebuah paradoks
besar; menggambarkan proses berpikir sebagai penantian
atau penyimakan kepada sang Wujud dan tampaknya
mengalami datang dan perginya Wujud, mirip yang dirasakan
kaum mistik tentang ketiadaan Tuhan. Pikiran manusia tidak
bisa mengadakan Wujud itu. Sejak zaman Yunani, orang-
orang di Barat cenderung melupakan Wujud dan alih-alih
memusatkan perhatian kepada wujud-wujud, sebuah proses
yang telah menghasilkan teknologi modern. Dalam artikel
berjudul “Only a God Can Save Us” yang ditulis menjelang
~667~ (pustaka-indo)

