Page 672 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 672
http://pustaka-indo.blogspot.com
Perjumpaan Aku-Engkau berarti kebebasan dan spontanitas,
bukan beban tradisi masa silam. Namun, mitzvot merupakan
hal yang sentral bagi spiritualitas Yahudi, dan ini dapat
menjelaskan mengapa Buber lebih populer di kalangan
Kristen daripada di kalangan Yahudi.
Buber menyadari bahwa istilah “Tuhan” telah dikotori dan
direndahkan, tetapi dia menolak untuk menghapuskannya.
“Di mana saya bisa menemukan kata yang setara dengan itu
untuk melukiskan realitas yang sama?” Kata tersebut
memikul makna yang terlalu agung dan kompleks, dan
mempunyai asosiasi sakral yang terlalu banyak. Orang yang
menolak kata “Tuhan” harus dihargai, sebab telah begitu
banyak hal mengerikan yang dilakukan atas namanya:
Tidak sulit untuk mengerti mengapa ada orang
yang mengusulkan masa tenang dari “segala
yang telah berlalu” sehingga kata-kata yang
telah disalahgunakan bisa dibebaskan. Namun
ini bukanlah cara untuk menebusnya. Kita
tidak bisa membersihkan istilah “Tuhan” dan
kita tidak bisa membuatnya utuh; namun,
betapapun ia telah cemar dan memar, kita bisa
membangkitkan dan melepaskannya dari
sengsara. 12
Tidak seperti kaum rasionalis, Buber tidak menentang mitos:
dia memandang mitos Lurianik tentang percikan ilahi yang
terperangkap di dunia memiliki makna simbolik yang penting.
Terpisahnya percikan itu dari Tuhan Tertinggi mencerminkan
pengalaman manusia tentang keterasingan. Ketika kita
berhubungan dengan orang lain, kita akan memulihkan
kesatuan primal dan mengurangi keterasingan di dunia.
Jika Buber kembali kepada Alkitab dan Hasidisme, Abraham
Joshua Heschel (1907-72) kembali kepada spirit para rabi
~665~ (pustaka-indo)

