Page 675 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 675

http://pustaka-indo.blogspot.com
             akhir  hayatnya,  Heidegger  mengajukan  tesis  bahwa
             pengalaman  ketiadaan  Tuhan  di  zaman  kita  bisa
             membebaskan kita dari belenggu wujud-wujud. Namun, tak
             ada  yang  bisa  kita  lakukan  untuk  menghadirkan  kembali
             Wujud  ke  zaman  ini.  Kita  hanya  bisa  berharap  adanya
             kebangkitan baru di masa depan.


             Filosof  Marxis,  Ernst  Bloch  (1885-1977),  memandang  ide
             tentang  Tuhan  sebagai  sesuatu  yang  alamiah  bagi  manusia.
             Seluruh  hidup  manusia  diarahkan  ke  masa  depan;  kita
             merasakan  kehidupan  kita  sebagai  sesuatu  yang  belum
             sempurna dan belum selesai. Berbeda dengan binatang, kita
             tidak  pernah  puas  namun  selalu  ingin  lebih.  Inilah  yang
             mendorong kita untuk berpikir dan berkembang, sebab pada
             setiap tahap kehidupan, kita harus melampaui diri sendiri dan
             menuju tingkat berikutnya: seorang bayi harus menjadi anak
             kecil, dan seorang anak kecil yang belum bisa berjalan harus
             mengatasi ketidakmampuannya dan menjadi anak-anak yang
             bisa berjalan, dan seterusnya. Seluruh mimpi dan ilham kita
             ingin  menyibak  apa  yang  akan  datang.  Bahkan,  filsafat
             dimulai dengan ketakjuban, yaitu pengalaman ketidaktahuan,
             yang  belum  diketahui.  Sosialisme  juga  menatap  ke  depan,
             kepada sebuah utopia. Meski Marxis menolak agama, tetapi
             di  mana  ada  harapan  di  situ  ada  agama.  Sebagaimana
             Feuerbach,  Bloch  memandang  Tuhan  sebagai  cita-cita
             manusia    yang   belum    terwujud,   tetapi   alih-alih
             mengalienasikan,  dia  merasa  Tuhan  ini  sangat  dibutuhkan
             bagi kondisi manusia.

             Max Horkheimer (1895-1973), ahli teori sosialis Jerman dari
             mazhab  Frankfurt,  juga  memandang  “Tuhan”  sebagai  cita-
             cita  penting  dengan  cara  yang  mengingatkan  kepada  para
             nabi.  Apakah  dia  ada  atau  tidak,  ataukah  kita  “beriman
             kepadanya”  atau  tidak  bukan  merupakan  persoalan.  Tanpa




                            ~668~ (pustaka-indo)
   670   671   672   673   674   675   676   677   678   679   680