Page 677 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 677
http://pustaka-indo.blogspot.com
Kegemparan serupa juga menyertai pernyataan David
Jenkins, Uskup Durham, meskipun gagasan seperti ini telah
cukup populer di lingkungan akademik. Don Cupitt, Dekan
Emmanuel College, Cambridge, juga pernah disebut “pendeta
ateis”: dia berpendapat Tuhan realistik tradisional yang
dikonsepsikan oleh teisme tidak bisa diterima dan sebaliknya
mengusulkan sebentuk Buddhisme Kristen yang
menempatkan pengalaman keagamaan lebih tinggi daripada
teologi. Seperti Robinson, Cupitt secara intelektual meraih
wawasan yang oleh kaum mistik dalam ketiga agama besar
dunia diraih melalui jalan intuitif. Namun, ide bahwa Tuhan
tidak sungguh-sungguh ada dan bahwa yang ada justru Tiada
bukan merupakan hal yang baru.
Sikap tidak toleran terhadap penggambaran yang tak layak
tentang Yang Mutlak semakin bertumbuh. Ini merupakan
ikonoklasme yang sehat, sebab di masa silam ide tentang
Tuhan telah dipergunakan dengan akibat-akibat yang
merusak. Salah satu perkembangan baru yang paling keras
sejak 1970-an adalah kebangkitan sejenis religiusitas yang
lazim kita sebut “fundamentalisme” dalam agama-agama
terbesar dunia, termasuk ketiga agama ketuhanan.
Spiritualitas yang sangat politis itu senantiasa berpandangan
harfiah dan tidak toleran. Di Amerika Serikat yang mudah
tertarik pada ekstremisme dan seruan apokaliptik,
fundamentalisme Kristen menggabungkan diri ke dalam
Kanan Baru. Kaum fundamentalis mengampanyekan
penghapusan hukum aborsi dan pengetatan aturan moral dan
sosial. Moral Majoritynya Jerry Falwell mencapai kekuatan
politik yang mencengangkan selama tahun-tahun
pemerintahan Reagan. Evangelis lainnya semacam Maurice
Cerullo, berpegang pada perkataan Yesus secara harfiah,
percaya bahwa mukjizat merupakan sendi keimanan yang
esensial. Tuhan akan mengabulkan apa pun yang diminta
~670~ (pustaka-indo)

