Page 665 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 665

http://pustaka-indo.blogspot.com
             dengan  suatu  aku,  sebuah  sebab  yang  terpisah  dari
             akibatnya, maka “dia” menjadi sebuah wujud, bukan Wujud
             itu sendiri. Suatu tiran yang mahakuasa dan mahatahu tidak
             berbeda  dengan  diktator  duniawi  yang  membuat  segala
             sesuatu  dan  semua  orang  menjadi  tenaga  penggerak  dalam
             mesin  yang  dikendalikannya.  Ateisme  yang  menolak  Tuhan
             semacam itu mungkin bisa dibenarkan.

             Sebagai  gantinya  kita  mesti  menemukan  “Tuhan”  di  atas
             Tuhan personal ini. Tak ada yang baru dalam hal ini. Sejak
             zaman  biblikal,  kaum  teis  telah  menyadari  watak  paradoks
             Tuhan yang mereka sembah, menyadari bahwa Tuhan yang
             dipersonalisasikan  ini  diseimbangkan  oleh  keilahian  yang
             transpersonal. Setiap pendoa merupakan kontradiksi, karena
             dia berusaha berbicara dengan seseorang yang perbincangan
             dengannya  justru  mustahil;  memohon  bantuan  seseorang
             yang  entah  telah  mengabulkannya  atau  tidak  sebelum
             diminta;  dia  mengatakan  “engkau”  kepada  Tuhan  yang,
             sebagai Wujud itu sendiri, lebih dekat dengan “Aku” daripada
             ego kita sendiri. Tillich lebih menyukai definisi tentang Tuhan
             sebagai Dasar wujud. Keikutsertaan di dalam Tuhan di atas
             “Tuhan”  seperti  itu  tidak  akan  mengalienasikan  kita  dari
             dunia,  namun  justru  membenamkan  kita  di  dalam  realitas.
             Dia  mengembalikan  kita  kepada  diri  kita  sendiri.  Manusia
             harus  menggunakan  simbol-simbol  ketika  berbicara  tentang
             Wujud itu sendiri: berbicara mengenainya secara harfiah atau
             realistik  tidaklah  tepat  dan  bahkan  tidak  benar.  Selama
             berabad-abad  simbol-simbol  “Tuhan”,  “pelindung”  dan
             “keabadian”  telah  membuat  orang  mampu  bersabar
             menanggung nestapa kehidupan dan horor kematian, namun
             ketika simbol-simbol ini kehilangan daya muncullah ketakutan
             dan  keraguan.  Orang  yang  mengalami  ketakutan  dan
             kecemasan ini harus mencari Tuhan di atas “Tuhan” teisme
             yang  telah  terdiskreditkan  dan  telah  kehilangan  daya




                            ~658~ (pustaka-indo)
   660   661   662   663   664   665   666   667   668   669   670