Page 662 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 662

http://pustaka-indo.blogspot.com
             kulit  hitam  semacam  James  H.  Cone  bertanya  bagaimana
             mungkin orang kulit putih merasa berhak untuk menegakkan
             kebebasan  melalui  kematian  Tuhan,  sementara  mereka
             memperbudak  manusia  atas  nama  Tuhan.  Teolog  Yahudi,
             Richard  Rubenstein  merasa  mustahil  untuk  memahami
             bagaimana  mereka  bisa  begitu  yakin  tentang  kemanusiaan
             tanpa  Tuhan,  padahal  belum  lama  berselang  terjadi
             pembantaian  Nazi.  Dia  sendiri  yakin  bahwa  ilah  yang
             dikonsepsikan  sebagai  Tuhan  Sejarah  telah  wafat  untuk
             selamanya  di  Auschwitz.  Namun,  Rubenstein  tidak  yakin
             bahwa  orang  Yahudi  dapat  meninggalkan  agama.  Setelah
             pemusnahan Yahudi Eropa hingga nyaris habis, mereka tidak
             boleh memutuskan diri dari masa silam. Akan tetapi, Tuhan
             Yahudi  liberal  yang  bermoral  tidak  cukup  memuaskan.  Dia
             sangat  tidak  personal,  mengabaikan  tragedi  kehidupan  dan
             beranggapan bahwa dunia pasti akan lebih baik. Rubenstein
             sendiri  lebih  menyukai  Tuhan  kaum  mistik  Yahudi.  Dia
             tergerak oleh doktrin tsimtsum Luria, tindakan pengosongan
             diri  Tuhan  secara  sukarela  demi  menciptakan  alam.  Semua
             mistikus memandang Tuhan sebagai Ketiadaan yang darinya
             kita  berasal  dan  kepadanya  kita  akan  kembali.  Rubenstein
             setuju  dengan  Sartre  bahwa  hidup  adalah  kehampaan;  dia
             memandang  Tuhan  kaum  mistik  sebagai  sebuah  cara
             imajinatif  untuk  memasuki  pengalaman  manusia  tentang
             ketiadaan. 6

             Teolog  Yahudi  yang  lain  juga  menemukan  ketenteraman  di
             dalam  Kabbalah  Lurianik.  Hans  Jonas  percaya  bahwa
             setelah  Auschwitz  orang  tak  lagi  bisa  meyakini
             kemahakuasaan Tuhan. Ketika Tuhan menciptakan dunia, dia
             secara  sukarela  membatasi  dirinya  dan  ikut  menanggung
             kelemahan  manusia.  Dia  tidak  bisa  melakukan  itu  lagi
             sekarang,  dan  manusia  harus  memulihkan  keutuhan  Tuhan
             dan  dunia  melalui  doa  dan  Taurat.  Namun,  teolog  Inggris



                            ~655~ (pustaka-indo)
   657   658   659   660   661   662   663   664   665   666   667