Page 658 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 658
http://pustaka-indo.blogspot.com
empirik. Ayer tidak mempersoalkan apakah Tuhan ada atau
tidak, namun apakah gagasan tentang Tuhan itu mempunyai
makna. Dia berpendapat bahwa sebuah pernyataan adalah
tidak bermakna jika kita tidak bisa melihat bagaimana
pernyataan itu bisa diverifikasi atau dibuktikan kekeliruannya.
Menyatakan bahwa “ada kehidupan berkecerdasan di Mars”
bukan merupakan pernyataan yang tidak bermakna karena
tersedia teknologi yang diperlukan untuk memverifikasinya.
Demikian pula seorang beriman sederhana dalam kisah
tradisional Old Man in the Sky bukannya membuat
pernyataan tanpa makna tatkala berkata: “Aku percaya
kepada Tuhan,” sebab setelah mati kita tentu bisa melihat
apakah itu benar atau tidak. Orang beriman yang lebih
canggih punya masalah yang lebih besar tatkala berkata:
“Tuhan tidak mengada dalam pengertian apa pun yang bisa
kita pahami” atau “Tuhan tidak mahabaik dalam pengertian
manusia atas kata itu.” Kedua pernyataan ini terlalu kabur;
karena mustahil untuk melihat bagaimana cara mengujinya
maka pernyataan tersebut tidak bermakna. Seperti yang
dikatakan Ayer: “Teisme begitu membingungkan dan kalimat-
kalimat yang mengandung kata ‘Tuhan’ sangat tidak koheren
dan tidak dapat diverifikasi atau dibuktikan kekeliruannya
sehingga berbicara tentang kepercayaan atau
ketidakpercayaan, beriman atau tidak beriman, secara logis
2
adalah mustahil.” Ateisme sama membingungkan dan tak
bermaknanya dengan teisme. Tak ada sesuatu pun di dalam
konsep tentang “Tuhan” yang bisa ditolak atau diragukan.
Seperti Freud, kaum Positivis percaya bahwa keyakinan
keagamaan merupakan ketidakdewasaan yang akan
dituntaskan oleh sains. Sejak 1950-an, para filosof linguistik
telah mengkritik Positivisme logis, dengan mengemukakan
bahwa apa yang disebut Ayer Prinsip Verifikasi juga tidak
bisa diverifikasi. Pada masa sekarang, kita cenderung untuk
~651~ (pustaka-indo)

