Page 654 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 654
http://pustaka-indo.blogspot.com
orang Yahudi yang tidak lagi dapat menganut pandangan
biblikal tentang Tuhan yang memanifestasikan diri dalam
sejarah. Tuhan yang, mengikut kata Wiesel, telah mati di
Auschwitz. gagasan tentang Tuhan personal digerogoti oleh
berbagai kesulitan. Jika Tuhan ini mahakuasa, tentu dia
mampu mencegah Holocaust. Jika dia tak mampu
menghentikannya, berarti dia tidak berkuasa dan tidak
berfaedah; jika dia mampu menghentikannya, namun memilih
untuk tidak melakukannya, maka dia adalah monster. Orang
Yahudi bukan satu-satunya yang percaya bahwa Holocaust
telah mengantarkan teologi konvensional ke titik
penghabisannya.
Namun adalah benar pula bahwa di Auschwitz pun sebagian
Yahudi terus mempelajari Talmud dan menyelenggarakan
perayaan hari-hari besar tradisional, bukan karena berharap
Tuhan akan menyelamatkan mereka, melainkan semata-mata
karena hal itu memang bermakna. Ada sebuah kisah, suatu
hari di Auschwitz sekelompok orang Yahudi mengadili
Tuhan. Mereka menuduhnya kejam dan berkhianat. Seperti
Ayub, mereka tidak merasa puas dengan jawaban yang lazim
diberikan terhadap masalah kejahatan dan penderitaan di
tengah kemelut yang sedang berlangsung. Mereka tidak
menemukan dalih bagi Tuhan, tidak ada kondisi yang
meringankan, maka mereka menyatakannya bersalah dan,
agaknya, layak dihukum mati. Rabi membacakan putusan itu.
Lalu, dia menengadah dan berkata bahwa peradilan telah
berakhir: waktu untuk doa senja telah tiba.[]
~647~ (pustaka-indo)

