Page 656 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 656

http://pustaka-indo.blogspot.com
             bahwa  kita  acap  menggunakan  standar  ganda  tatkala
             membandingkan  masa  lalu  dengan  masa  kita  sekarang  ini.
             Jika  masa  lalu  dianalisis  dan  direlatifkan,  masa  sekarang
             dipandang kebal terhadap proses itu dan kedudukan kita saat
             ini  dimutlakkan:  “para  penulis  Perjanjian  Baru  dianggap
             terjangkiti kesadaran keliru yang berakar pada masa mereka,
             tetapi para analis menganggap kesadaran masanya  sebagai
                                            1
             karunia  intelektual  yang  murni.”   Kaum  sekularis  abad
             kesembilan  belas  dan  awal  abad  kedua  puluh  memandang
             ateisme  sebagai  kondisi  kemanusiaan  yang  tidak  dapat
             dihapuskan pada era ilmiah.

             Banyak  dukungan  untuk  pandangan  ini.  Di  Eropa,  gereja-
             gereja  mulai  kosong;  ateisme  tidak  lagi  merupakan  ideologi
             segelintir  pelopor  intelektual,  tetapi  telah  menjadi  keyakinan
             yang menyebar luas. Di masa lalu, ateisme selalu diakibatkan
             oleh gagasan tertentu tentang Tuhan, namun kini tampaknya
             ateisme  telah  kehilangan  hubungan  dengan  teisme  dan
             menjadi  respons  automatis  terhadap  pengalaman  hidup  di
             tengah  masyarakat  sekular.  Seperti  kerumunan  orang  yang
             mengelilingi  “si  gila”  Nietzsche,  banyak  orang  yang  tidak
             gentar  dengan  prospek  hidup  tanpa  Tuhan.  Ada  pula  yang
             melihat ketiadaannya sebagai hal yang melegakan. Sebagian
             di  antara  kita  yang  pernah  mengalami  masa-masa  sulit
             dengan  agama  di  masa  lalu  merasa  terbebaskan  dengan
             meninggalkan  Tuhan  yang  telah  meneror  di  masa  kanak-
             kanak. Sungguh menggembirakan tidak harus tunduk takut di
             hadapan  ilah  pendendam,  yang  mengancam  kita  dengan
             hukuman abadi jika kita tidak mematuhi berbagai aturannya.
             Kita  meraih  kebebasan  intelektual  baru  dan  dengan  berani
             dapat mengikuti pikiran kita sendiri tanpa harus menahan diri
             agar  sesuai  dengan  aturan  agama  yang  sulit.  Kita  mengira
             bahwa  ilah  gaib  yang  kita  alami  itu  adalah  Tuhan  autentik
             kaum Yahudi, Kristen, dan Muslim, tanpa berpikir bahwa itu



                            ~649~ (pustaka-indo)
   651   652   653   654   655   656   657   658   659   660   661