Page 661 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 661
http://pustaka-indo.blogspot.com
demikian pula keyakinan para teolog yang lebih maju. Kita
mesti bertahan tanpa Tuhan dan berpegang kepada Yesus
dari Nazareth. Injil merupakan “kabar baik tentang seorang
merdeka yang memerdekakan orang lain”. Yesus dari
Nazareth adalah pembebas, “manusia yang mendefinisikan
apa arti menjadi manusia”. 5
Di dalam Radical Theology and the Death of God (1966),
William Hamilton mencatat bahwa bentuk teologi ini berakar
di Amerika Serikat, yang selalu berkecenderungan utopian
dan tak memiliki tradisi teologis sendiri. Tamsil tentang
kematian Tuhan menampilkan anomi dan barbarisme era
teknik yang memustahilkan kepercayaan kepada Tuhan
biblikal dalam cara lama. Hamilton sendiri memandang
suasana teologis ini sebagai cara menjadi seorang Protestan
di abad kedua puluh. Luther telah meninggalkan
kesendiriannya dan berangkat menuju dunia. Dengan cara
yang sama, dia dan Kristen radikal lainnya adalah manusia
sekular yang teguh. Mereka telah meninggalkan tempat suci
yang biasa ditempati Tuhan untuk bertemu dengan manusia
Yesus di lingkungan sekitar mereka dalam dunia teknologi,
kekuatan, seks, uang, dan kota. Manusia sekular modern
tidak membutuhkan Tuhan. Tak ada lubang berbentukTuhan
di dalam diri Hamilton: dia akan menemukan solusinya sendiri
di dunia.
Ada sesuatu yang lebih pedih di sekitar optimisme tahun
enam puluhan yang meledak-ledak ini. Tentu saja kaum
radikal benar bahwa cara lama perbincangan tentang Tuhan
telah menjadi mustahil bagi banyak orang, tetapi pada 1990-
an sulit untuk merasakan bahwa kebebasan dan fajar baru
telah tiba. Bahkan pada saat itu, para teolog Kematian Tuhan
dikritik, karena perspektif mereka adalah perspektif kelas
menengah Amerika yang berkulit putih dan makmur. Teolog
~654~ (pustaka-indo)

