Page 657 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 657

http://pustaka-indo.blogspot.com
             mungkin sekadar proyeksi pikiran yang menyimpang.

             Ada  pula  suara  kepiluan.  Jean-Paul  Sartre  (1905-1980)
             berbicara  tentang  lubang  berbentuk-Tuhan  dalam  relung
             kesadaran  manusia,  tempat  yang  pernah  diisi  oleh  Tuhan.
             Namun,  dia  berpendapat  bahwa  sekiranya  Tuhan  sungguh-
             sungguh  ada,  dia  tetap  perlu  ditolak  sebab  gagasan tentang
             Tuhan  menafikan  kemerdekaan  kita.  Agama  tradisional
             mengajarkan  bahwa  kita  mesti  menyesuaikan  diri  dengan
             gagasan Tuhan tentang kemanusiaan untuk menjadi manusia
             yang  utuh.  Sebaliknya,  kita  mesti  melihat  umat  manusia
             sebagai  wujud  kebebasan.  Ateisme  Sartre  bukanlah  kredo
             yang  menenteramkan,  melainkan  eksistensialis  lainnya
             memandang  ketiadaan  Tuhan  sebagai  pembebasan  positif.
             Maurice Merleau-Ponty (1908-61) berpendapat bahwa alih-
             alih  menambah  kekaguman,  Tuhan  sebenarnya  justru
             menghilangkannya.  Karena  Tuhan  merepresentasikan
             kesempurnaan  mutlak,  tak  tersisa  apa  pun  untuk  kita
             kerjakan  atau  kita  capai.  Albert  Camus  (1913-60)
             menyuarakan  ateisme  heroik.  Orang  harus  menolak  Tuhan
             secara  membabi  buta  agar  cinta  mereka  tercurah
             sepenuhnya  kepada  umat  manusia.  Sebagaimana  biasa,
             orang  ateis  selalu  punya  alasan.  Di  masa  lalu,  Tuhan
             memang pernah digunakan untuk mematikan kreativitas; jika
             dia  dijadikan  jawaban  untuk  menyelimuti  semua  masalah
             yang  mungkin  timbul,  dia  tentu  akan  melumpuhkan  rasa
             kagum ataupun kerja keras kita. Ateisme yang konsisten dan
             bersemangat bisa menjadi lebih religius dibandingkan teisme
             yang penuh ketakutan atau tak memadai.

             Selama  1950-an,  kaum  Positivis  logis  semacam  A.J.  Ayer
             (1910-91)  bertanya  apakah  ada  gunanya  percaya  kepada
             Tuhan.  Ilmu  alam  merupakan  satu-satunya  sumber
             pengetahuan yang dapat diandalkan karena dapat diuji secara




                            ~650~ (pustaka-indo)
   652   653   654   655   656   657   658   659   660   661   662