Page 653 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 653
http://pustaka-indo.blogspot.com
dibawa ke Auschwitz dan kemudian ke Buchenwald. Pada
malam pertamanya di kamp maut itu, menyaksikan asap
hitam menggulung ke angkasa dari krematorium tempat jasad
ibu dan saudara-saudaranya dilemparkan, dia tahu bahwa
nyala api telah memakan imannya untuk selamanya. Dia
berada dalam sebuah dunia yang berhubungan secara
objektif dengan dunia tak bertuhan seperti yang dibayangkan
oleh Nietzsche. “Takkan pernah kulupakan keheningan
malam yang membinasakan hasrat hidup dari diriku, untuk
selamanya,” tulisnya beberapa tahun kemudian. “Takkan
pernah kulupakan saat-saat yang telah membunuh Tuhanku
dan jiwaku, menghancurkan mimpi-mimpiku.” 33
Suatu hari Gestapo menggantung seorang anak. Bahkan SS
terusik oleh bayangan menggantung seorang anak kecil di
depan ribuan penonton. Seorang anak yang, kenang Wiesel,
berwajah “malaikat dengan sorot mata sedih”, membisu,
pucat dan sangat tenang ketika naik ke tiang gantungan. Di
belakang Wiesel, seorang tawanan lain bertanya: “Di mana
gerangan Tuhan? Di mana Dia?” Setengah jam kemudian
anak itu mati, sementara para tawanan dipaksa untuk melihat
wajahnya. Orang tadi bertanya lagi: “Di mana gerangan
Tuhan sekarang?” Dan Wiesel mendengar bisikan di dalam
dirinya menjawab: “Di mana Dia gerangan? Dia di sini—Dia
digantung di sini di tiang gantungan ini.” 34
Dostoyevsky pernah mengatakan bahwa kematian seorang
anak kecil bisa membuat Tuhan tak dapat diterima, namun
bahkan dia sendiri, yang tidak asing dengan kekejaman
manusia, tak pernah membayangkan kematian anak kecil
dalam situasi demikian. Horor Auschwitz merupakan
tantangan berat bagi banyak gagasan konvensional tentang
Tuhan. Tuhan para filosof yang jauh, yang larut dalam
apatheia transenden, menjadi tidak bisa ditoleransi. Banyak
~646~ (pustaka-indo)

