Page 648 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 648
http://pustaka-indo.blogspot.com
tetap menjadi bangsa yang terpecah dan terasing kecuali jika
memiliki negara sendiri. Kerinduan untuk kembali ke Zion
(salah satu perbukitan utama di Yerusalem) berawal sebagai
gerakan sekular, sebab pasang surut sejarah telah
meyakinkan kaum Zionis bahwa agama dan Tuhan mereka
tidak punya kekuatan. Di Rusia dan Eropa Timur, Zionisme
merupakan akibat dari sosialisme revolusioner yang ingin
menerapkan teori-teori Karl Marx dalam praktik. Tokoh-
tokoh revolusioner Yahudi menyadari bahwa para kamerad
mereka sama antiSemitiknya dengan Tsar dan mencemaskan
bahwa nasib mereka tidak akan berubah di bawah rezim
komunis: berbagai kejadian membuktikan bahwa mereka
benar. Oleh karena itu, kaum sosialis muda yang fanatik
semacam David Bengurion (1886-1973) segera berkemas
dan berlayar ke Palestina, bertekad untuk menciptakan
model masyarakat yang akan menjadi contoh bagi kaum non-
Yahudi dan mengawali langkah menuju milenium sosialis.
Yang lainnya tidak punya waktu bagi mimpi-mimpi Marxis
semacam ini. Tokoh karismatik Austria, Theodor Herzl
(1860-1904) melihat langkah baru kaum Yahudi itu sebagai
usaha kolonial: di bawah sayap salah satu kekuatan imperial
Eropa, negara Yahudi akan menjadi baris depan kemajuan di
tengah wilayah Islam.
Meski berbau sekularisme, Zionisme mengungkapkan diri
dalam terminologi agama konvensional dan pada dasarnya
merupakan sebuah agama tanpa Tuhan. Zionisme sarat
dengan harapan ekstatik dan mistik tentang masa depan,
mengambil tema-tema lama tentang penebusan, ziarah, dan
kelahiran kembali. Zionis bahkan mengadopsi kebiasaan
memberi nama baru bagi diri sendiri sebagai simbol
penebusan jiwa. Asher Ginzberg, misalnya, seorang
propagandanya yang paling awal, menamai dirinya Ahad
Ha’am (Anggota Masyarakat). Kini, dia menjadi manusia
~641~ (pustaka-indo)

