Page 645 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 645

http://pustaka-indo.blogspot.com
             merupakan bagian dari eksistensi esensial ini. Di dalam The
             Religion of Reason Drawn from the Sources of Judaism
             (diterbitkan  secara  anumerta  pada  1919),  Cohen  masih
             bersikukuh  bahwa  Tuhan  hanya  merupakan  buah  pikiran
             manusia.  Namun,  dia  mulai  mengakui  peranan  emosional
             agama  dalam  kehidupan  manusia.  Sebuah  gagasan  etik
             semata—semacam  “Tuhan”—tidak  dapat  menenangkan
             kita.  Agama  mengajarkan  kita  untuk  menyayangi  tetangga,
             karena  itu  mungkin  untuk  mengatakan  bahwa  Tuhan  dalam
             konsepsi agama—yang dipertentangkan dengan Tuhan etika
             dan filsafat—adalah cinta kasih itu.

             Ide-ide  semacam  ini  dikembangkan  lebih  luas  oleh  Franz
             Rosenzweig (1886-1929), yang melahirkan konsepsi tentang
             Yudaisme yang sangat berbeda dengan yang diketengahkan
             oleh  tokoh  sezamannya.  Bukan  hanya  merupakan  seorang
             eksistensialis  pertama,  dia  juga  merumuskan  beberapa
             gagasan  yang  dekat  dengan  agama-agama  Timur.
             Kemandiriannya  mungkin  bisa  dijelaskan  oleh  kenyataan
             bahwa dia telah meninggalkan Yudaisme sejak berusia muda,
             menjadi seorang agnostik dan kemudian mempertimbangkan
             untuk  beralih  ke  Kristen  sebelum  akhirnya  kembali  ke
             Yudaisme  Ortodoks.  Rosenzweig  dengan  bersemangat
             menolak    bahwa    pengamalan   Taurat   menimbulkan
             kebergantungan perbudakan hina kepada Tuhan yang tiranik.
             Agama bukan sekadar menyangkut moralitas, namun secara
             esensial  merupakan  pertemuan  dengan  Tuhan.  Bagaimana
             mungkin  manusia  biasa  bisa  bertemu  dengan  Tuhan  yang
             transenden?  Rosenzweig  tidak  pernah  menyatakan  kepada
             kita seperti apa pertemuan itu—inilah kelemahan filsafatnya.
             Dia mencurigai upaya Hegel untuk menyatukan Roh dengan
             manusia  dan  alam:  jika  kemanusiaan  kita  hanya  dipandang
             sebagai  bagian  dari  Jiwa  Dunia,  kita  tidak  lagi  merupakan
             individu  yang  sejati.  Sebagai  seorang  eksistensialis  sejati,




                            ~638~ (pustaka-indo)
   640   641   642   643   644   645   646   647   648   649   650