Page 640 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 640
http://pustaka-indo.blogspot.com
membenarkan, mengagumi, dan mendorong. Seperti yang
dikemukakan oleh Wilfred Cantwell Smith, sikap tak religius
mewarnai karya Wajdi. Seperti para pendahulunya, dia tetap
berpendapat bahwa Barat hanya mengajarkan apa yang
telah ditemukan Islam beberapa abad terdahulu namun,
berbeda dengan mereka, dia jarang merujuk kepada Tuhan.
Realitas manusiawi “Islam” menjadi pusat perhatiannya: dan
nilai duniawi ini, dalam beberapa hal, telah menggantikan
transendensi Tuhan. Smith menyimpulkan:
Muslim sejati bukanlah seorang yang percaya
pada Islam— terutama Islam dalam sejarah;
tetapi seorang yang percaya kepada Tuhan dan
setia kepada wahyu yang disampaikan melalui
Nabinya. Yang terakhir ini sangat dihormati.
Namun, tak ada komitmen. Dan Tuhan sangat
jarang tampil di sepanjang halaman jurnal
itu. 28
Sebaliknya, terasa ada ketidakstabilan dan hilangnya rasa
percaya diri: pendapat Barat terlalu dipersoalkan. Orang-
orang seperti husain paham tentang agama dan sentralitas
Tuhan, tetapi tak memiliki kontak dengan dunia modern.
Orang yang memiliki kontak dengan modernitas kehilangan
rasa tentang Tuhan. Dari ketidakstabilan ini lahir aktivisme
politik yang menjadi ciri fundamentalisme modern, yang juga
merupakan sikap berpaling dari Tuhan.
Orang Yahudi Eropa juga terpengaruh oleh kritik keras
terhadap agama mereka. Di Jerman, para filosof Yahudi
mengembangkan apa yang mereka sebut “Ilmu Yudaisme”
yang menulis ulang sejarah Yahudi dalam terma-terma
Hegelian untuk menjawab tuduhan bahwa Yudaisme
merupakan keyakinan yang rendah dan mengalienasikan.
Orang pertama yang mengupayakan reinterpretasi terhadap
sejarah Israel adalah Solomon Formstecher (1808-89).
~633~ (pustaka-indo)

