Page 642 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 642
http://pustaka-indo.blogspot.com
kebergantungan mereka terhadap tempat bersandar dan
pengendali eksternal. Dengan demikian, mereka meraih
kesadaran keagamaan yang lebih tinggi, yang memampukan
mereka mendekatkan diri kepada Tuhan secara bebas.
Mereka tidak bergantung pada perantaraan para pendeta
atau dikekang oleh aturan yang asing, seperti yang
dikemukakan Hegel dan Kant. Sebaliknya mereka belajar
untuk menemukan Tuhan melalui pikiran dan individualitas
mereka. Kristen dan Islam telah berupaya mencontoh
Yudaisme, namun kurang berhasil. Kristen, misalnya,
mempertahankan banyak unsur pagan dalam
penggambarannya tentang Tuhan. Dengan kemajuan yang
telah dicapainya, orang Yahudi akan segera mencapai
pembebasan yang sempurna; mereka bersiap menyongsong
tahapan akhir dalam perkembangan mereka ini dengan cara
menyisihkan aturan-aturan seremonial yang tersisa dari
tahapan sejarah mereka sebelumnya yang kurang
berkembang.
Sebagaimana reformis Muslim, para pelopor Ilmu Yudaisme
juga sangat ingin menampilkan agama mereka sebagai
keyakinan yang seluruhnya rasional. Mereka khususnya ingin
mencampakkan Kabbalah, yang telah menjadi aib sejak
murtadnya Shabbetai Zevi dan bangkitnya Hasidisme.
Samuel Hirsch, yang menerbitkan The Religious
Philosophy of the Jews pada 1842, menulis sejarah Israel
yang mengabaikan dimensi mistik Yudaisme dan menyajikan
sejarah ketuhanan etik dan rasional, yang berfokus pada
gagasan tentang kebebasan. Seorang manusia dicirikan oleh
kemampuannya mengatakan “Aku”. Kesadaran diri ini
mewakili kebebasan pribadi yang tak bisa teralienasi. Agama
pagan tidak pernah mampu menumbuhkan autonomi ini,
sebab pada tahapan yang sangat awal perkembangan
manusia, kesadaran diri dipandang dikaruniakan datang dari
~635~ (pustaka-indo)

