Page 646 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 646
http://pustaka-indo.blogspot.com
Rosenzweig menekankan keterpisahan mutlak setiap
manusia. Setiap kita adalah sendiri, tersesat dan tenggelam di
dalam lautan manusia. Hanya ketika Tuhan berpaling kepada
kita, maka kita pun terbebas dari anonimitas dan ketakutan.
Oleh karena itu, Tuhan tidak mereduksi individualitas kita,
tetapi memampukan kita mencapai kesadaran diri yang utuh.
Mustahil bagi kita untuk bertemu Tuhan secara
antropomorfis. Tuhan adalah Dasar segala wujud, begitu
menyatu dengan eksistensi kita sehingga tidak ada
kemungkinan bagi kita untuk berbicara kepadanya, seakan-
akan dia sekadar pribadi lain seperti kita sendiri. Tak ada
katakata atau gagasan yang bisa melukiskan Tuhan. Jurang
pemisah antara Tuhan dan manusia dijembatani oleh
perintah-perintah Taurat. Ini bukanlah aturan yang
mengekang semata, seperti yang dibayangkan oleh goyim,
tetapi merupakan sakramen, tindakan simbolik yang
menunjuk ke arah yang lebih tinggi dan membawa orang
Yahudi kepada dimensi ketuhanan yang mendasari wujud
setiap kita. Sebagaimana para rabi, Rosenzweig berpendapat
bahwa perintah-perintah itu sangatlah simbolik—sebab sering
tidak memiliki makna pada dirinya sendiri—yang
membimbing kita melampaui kata-kata dan konsep kita yang
terbatas menuju Wujud yang tak terlukiskan itu sendiri.
Perintah-perintah itu membantu kita menumbuhkan sikap
menyimak dan menanti sehingga kita menjadi terarah dan
penuh perhatian kepada Dasar eksistensi kita. Oleh karena
itu, mitzvot tidak bekerja dengan sendirinya, tetapi harus
dimiliki oleh individu agar setiap mitzvot tidak lagi menjadi
perintah eksternal, tetapi mengekspresikan perilaku batin
aku, “kewajiban” batin aku. Namun, sekalipun Taurat
adalah praktik keagamaan khusus Yahudi, wahyu itu tidak
hanya berlaku bagi orang Israel. Dia, Rosenzweig, akan
bertemu dengan Tuhan dalam gerakan-gerakan simbolik
~639~ (pustaka-indo)

