Page 643 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 643
http://pustaka-indo.blogspot.com
atas. Kaum pagan menempatkan sumber kebebasan pribadi
mereka pada alam dan meyakini bahwa nasib mereka
merupakan hal yang tak terhindarkan. Akan tetapi, Ibrahim
telah menolak fatalisme dan rasa kebergantungan pagan ini.
Dia berdiri sendiri di hadapan Tuhan dengan kendali penuh di
tangan sendiri. Manusia semacam itu akan menemukan
Tuhan di dalam setiap aspek kehidupan. Tuhan, Penguasa
Alam, telah merancang alam untuk membantu kita meraih
kebebasan batin ini, dan setiap individu dididik demi tujuan ini
tidak lain oleh Tuhan sendiri. Yudaisme bukanlah keyakinan
hina seperti yang dibayangkan oleh orang-orang non-Yahudi.
Yudaisme merupakan agama yang lebih maju dibandingkan
dengan, misalnya, Kristen, yang telah berpaling dari akar
keyahudiannya dan kembali kepada irasionalitas dan takhayul
paganisme.
Nachman Krochmal (1785-1840), yang bukunya Guide for
the Perplexed of Our Time diterbitkan secara anumerta
pada 1841, tidak menarik diri dari mistisisme seperti para
koleganya. Dia senang menyebut “Tuhan” atau “Jiwa”
sebagai “Tiada”, seperti yang dilakukan oleh para Kabbalis,
dan menggunakan metafora Kabbalistik tentang emanasi
untuk menjelaskan Tuhan yang menyibak tabir dirinya.
Krochmal berpendapat bahwa prestasi bangsa Yahudi
bukanlah hasil dari mengiba kepada Tuhan, melainkan karya
dari kesadaran kolektif. Selama berabad-abad, orang Yahudi
perlahan-lahan memperhalus konsepsi ketuhanan mereka.
Dengan demikian, pada masa pengasingan Tuhan
mengungkapkan kehadirannya melalui mukjizat. Namun,
tatkala kembali dari Babilonia, orang Yahudi telah mencapai
persepsi ketuhanan yang lebih maju sehingga berbagai tanda
dan keajaiban tidak lagi diperlukan. Konsepsi Yahudi tentang
pengabdian kepada Tuhan bukanlah kebergantungan seperti
budak sebagaimana yang dibayangkan oleh kaum goyim,
~636~ (pustaka-indo)

