Page 638 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 638

http://pustaka-indo.blogspot.com
             membandingkan  kejayaan  duniawi  dengan  citra  penyaliban
             Kristus.  Akan  tetapi,  Islam  adalah  agama  kesuksesan.  Al-
             Quran  mengajarkan  bahwa  masyarakat  yang  hidup  sesuai
             dengan kehendak Tuhan (menegakkan keadilan, persamaan,
             dan distribusi kekayaan yang adil) tidak akan gagal. Sejarah
             Muslim  tampaknya  telah  meneguhkan  hal  ini.  Berbeda
             dengan  Kristus,  Muhammad  bukanlah  figur  kegagalan,
             namun  merupakan  figur  dengan  keberhasilan  yang
             mengagumkan.  Prestasinya  dilipatgandakan  oleh  kemajuan
             fenomenal  imperium  Muslim  selama  abad  ketujuh  dan
             kedelapan.  Hal  ini  dengan  sendirinya  tampak  meneguhkan
             keimanan  kaum  Muslim  terhadap  Tuhan:  Allah  terbukti
             sangat  efektif  dan  firmannya  menjadi  nyata  di  pentas
             sejarah. Keberhasilan kaum Muslim terus berlanjut. Bahkan
             bencana  semacam  invasi  Mongol  bisa  diatasi.  Selama
             berabad-abad,  ummah  telah  mencapai  makna  yang  paling
             sakramental  dan  telah  menyingkapkan  keberadaan  Tuhan.
             Namun,  kini  tampaknya  ada  sesuatu  yang  secara  radikal
             keliru di dalam sejarah Islam, dan mau tak mau berpengaruh
             terhadap  persepsi  tentang  Tuhan.  Sejak  itu  banyak  orang
             Muslim  yang  memusatkan  perhatian  untuk  mengembalikan
             sejarah  Islam  ke  jalurnya  dan  mengupayakan  agar  visi  Al-
             Quran berlaku di dunia.

             Rasa terhina bertambah parah ketika pengenalan lebih dekat
             dengan  Barat  menyingkapkan  betapa  dalamnya  kebencian
             Barat  terhadap  Nabi  Muhammad  Saw.  dan  agamanya.
             Intelektualisme  Muslim  semakin  tertuju  kepada  apologetika
             atau  impian  kejayaan  masa  silam—suatu  kecenderungan
             yang  berbahaya.  Tuhan  tak  lagi  merupakan  titik  pusat.
             Cantwell Smith menelusuri proses ini melalui analisis cermat
             atas Jurnal Mesir Al-Azhar  dari  1930  hingga  1948.  Selama
             masa  itu,  jurnal  tersebut  memiliki  dua  editor.  Dari  1930
             hingga  1933,  jurnal  itu  dijalankan  oleh  Al-Khidr  Husain,




                            ~631~ (pustaka-indo)
   633   634   635   636   637   638   639   640   641   642   643