Page 634 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 634

http://pustaka-indo.blogspot.com
             akrabnya.  Dia  tidak  pernah  mengadopsi  gaya  hidup  Barat
             sepenuhnya,  tetapi  senang  berkunjung  ke  Eropa  secara
             teratur  untuk  menyegarkan  dirinya  secara  intelektual.  Ini
             tidak  berarti  bahwa  dia  meninggalkan  Islam.  Sebaliknya,
             sebagaimana  setiap  pembaru,  Abduh  ingin  kembali  kepada
             akar keimanannya. Oleh karena itu, dia menyerukan kembali
             kepada  esensi  ajaran  Nabi  dan  empat  khalifah  pertama.
             Namun,  ini  tidak  ada  sangkutpautnya  dengan  penolakan
             modernitas  oleh  kaum  fundamentalis.  Abduh  berpendapat
             bahwa umat Muslim harus mempelajari sains, teknologi, dan
             filsafat  sekular  agar  dapat  berperan  dalam  dunia  modern.
             Fiqih  harus  direformasi  agar  memungkinkan  umat  Islam
             meraih kebebasan intelektual yang mereka butuhkan. Seperti
             halnya  Al-Afghani,  dia  juga  berusaha  menampilkan  Islam
             sebagai agama rasional, dengan menyatakan bahwa di dalam
             Al-Quran, akal dan agama saling bergandengan tangan untuk
             pertama  kalinya  dalam  sejarah  manusia.  Sebelum  risalah
             kenabian  Muhammad,  wahyu  disampaikan  melalui  mukjizat,
             legenda, dan retorika irasional, namun Al-Quran tidak pernah
             menggunakan  metode-metode  yang  lebih  primitif  ini.  Al-
             Quran  “mengajukan  bukti  dan  argumentasi,  menjelaskan
             pandangan  kaum  kafir  dan  mengecam  mereka  secara
                     26
             rasional”.   Serangan  yang  dilancarkan  oleh  Al-Ghazali
             terhadap  para  faylasuf,  menurut  Abduh,  merupakan  sikap
             yang  tidak  moderat.  Hal  itu  menyebabkan  terjadinya
             pembelahan  antara  kesalehan  dan  rasionalisme,  yang
             kemudian  berpengaruh  terhadap  kedudukan  intelektual
             ulama.  Ini  tecermin  pada  kurikulum  usang  Al-Azhar.  Oleh
             karena  itu,  kaum  Muslim  harus  kembali  kepada  spirit  Al-
             Quran  yang  lebih  terbuka  dan  rasional.  Namun,  Abduh
             menghindar  dari  rasionalisme  yang  terlalu  reduksionis.  Dia
             mengutip hadis: “Berpikirlah tentang makhluk Allah dan
             jangan berpikir tentang hakikatnya karena kalian akan
             binasa.” Akal tidak dapat menjangkau esensi wujud Tuhan



                            ~627~ (pustaka-indo)
   629   630   631   632   633   634   635   636   637   638   639