Page 632 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 632

http://pustaka-indo.blogspot.com
             namun  mereka  juga  terkait  erat  dengan  beberapa  bentuk
             mistisisme  Islam.  Bentuk  sufisme  yang  lebih  imajinatif  dan
             inteligen  serta  mistisisme  Isyraqi  telah  membantu  kaum
             Muslim  dalam  beberapa  krisis  terdahulu,  dan  kini  mereka
             kembali  berpaling  ke  aliran-aliran  itu.  Pengalaman  tentang
             Tuhan  tidak  dipandang  sebagai  penghalang,  melainkan
             sebagai kekuatan pengubah yang akan mempercepat transisi
             ke arah modernitas. Pembaru Iran Jamal Al-Din Al-Afghani
             (1838-87),  misalnya,  adalah  seorang  yang  menguasai
             mistisisme  Isyraqi  sekaligus  penganjur  modernisasi  yang
             bersemangat.  Ketika  berkeliling  Iran,  Afghanistan,  Mesir,
             dan  India,  Al-Afghani  berupaya  terbuka  ke  semua  orang.
             Dia  mampu  menampilkan  diri  sebagai  Sunni  ketika
             berhadapan  dengan  orang  Sunni,  menjadi  martir  Syiah  bagi
             orang  Syiah,  seorang  revolusioner,  filosof  religius,  dan
             seorang  parlementer.  Latihan-latihan  mistikal  dalam
             mistisisme  Isyraqi  membantu  seorang  Muslim  merasakan
             kesatuan  dengan  alam  di  sekeliling  mereka  dan  mengalami
             kebebasan  dari  batas-batas  yang  membelenggu  jiwa.  Ada
             dugaan bahwa sikap Al-Afghani mengadopsi berbagai peran
             yang  berbeda  dipengaruhi  oleh  latihan  mistikal,  dengan
                                                 25
             konsepnya  tentang  jiwa  yang  diperluas.   Agama  memang
             penting,  tetapi  pembaruan  tetap  diperlukan.  Al-Afghani
             adalah  seorang  teis  yang  penuh  keyakinan,  bahkan  sangat
             bersemangat,   namun   dalam   karyanya   satu-satunya,
             Bantahan  terhadap  Kaum  Materialis  (Ibthâl  Madzhab
             Al-Dahriyyûn  wa  Bayân  Mafâsidihim),  dia  sedikit  sekali
             berbicara  tentang  Tuhan.  Karena  dia  tahu  bahwa  Barat
             menghargai  akal  dan  menganggap  Islam  dan  Orang  Timur
             tidak  rasional,  Al-Afghani  berupaya  menjelaskan  Islam
             sebagai   sebuah   kepercayaan   yang   dicirikan   oleh
             penghargaannya  terhadap  akal.  Sebenarnya,  bahkan
             kalangan  rasionalis  semacam  Mu‘tazilah  pun  akan  merasa
             aneh dengan deskripsi semacam ini tentang agama mereka.



                            ~625~ (pustaka-indo)
   627   628   629   630   631   632   633   634   635   636   637