Page 630 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 630
http://pustaka-indo.blogspot.com
sebuah bangsa Barat: Dia mengesampingkan Islam,
membuat agama menjadi urusan yang betul-betul bersifat
pribadi. Tarekat sufi dilarang dan menjadi gerakan bawah
tanah; madrasah ditutup dan pendidikan ulama negeri
dihentikan. Kebijakan sekularisasi ini disimbolkan lewat
larangan pakaian fez. Larangan ini mengurangi penampilan
agama di ruang publik dan juga merupakan usaha psikologis
untuk memaksa masyarakat mengenakan pakaian Barat:
“bertopi” sebagai pengganti fez mulai diartikan sebagai
“eropanisasi”. Reza Khan, Syah Iran dari 1925 hingga 1941,
mengagumi Atatürk dan mengupayakan kebijakan serupa:
hijab dilarang; para mullah dipaksa bercukur dan
mengenakan topi sebagai pengganti turban tradisional;
perayaan tradisional untuk menghormati Imam Syiah dan
syahid Husain juga dilarang.
Freud dengan tepat mengatakan bahwa pengekangan paksa
terhadap agama bisa menjadi destruktif. Sebagaimana halnya
seksualitas, agama merupakan kebutuhan manusia yang
mempengaruhi kehidupan pada semua tingkatan. Jika
dikekang, ledakan dan kerusakan yang terjadi akan sama
destruktifnya dengan pengekangan seksual. Kaum Muslim
memandang Turki Baru dan Iran dengan rasa curiga dan
ingin tahu. Di Iran terdapat tradisi kaum mullah menentang
para syah atas nama rakyat. Mereka terkadang mencapai
keberhasilan yang luar biasa. Pada 1872, tatkala syah
menjual hak monopoli produksi, penjualan, dan ekspor
tembakau kepada Inggris, yang mengakibatkan bangkrutnya
bisnis para produsen Iran, para mullah mengeluarkan fatwa
yang melarang orang Iran merokok. Syah didesak untuk
meninjau ulang konsesi itu. Kota suci Qum menjadi alternatif
bagi rezim yang lalim dan semakin haus darah di Teheran.
Pengekangan agama bisa melahirkan fundamentalisme,
sebagaimana bentuk teisme yang tak memadai bisa
~623~ (pustaka-indo)

