Page 627 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 627
http://pustaka-indo.blogspot.com
namun dengan sumber yang sangat berbeda. Pada
penghujung abad kesembilan belas, mission civilisatrice
Eropa sudah berjalan sukses. Prancis telah menjajah Aljazair
pada 1830, dan pada 1839 Inggris menguasai Aden.
Gabungan kekuatan keduanya mengambil alih Tunisia (1881),
Mesir (1882), Sudan (1898), Libia dan Maroko (1912). Pada
1920, Inggris dan Prancis mencabik-cabik Timur Tengah
menjadi kawasan protektorat dan mandat. Proyek kolonial ini
semakin meresmikan proses pembaratan yang telah
berlangsung diam-diam, sebab Eropa telah menegakkan
hegemoni ekonomi dan kultural selama abad kesembilan
belas atas nama modernisasi. Eropa yang telah mengalami
teknikalisasi itu telah menjadi kekuatan besar dan menguasai
seluruh dunia. Pos-pos perdagangan dan kedutaan yang
didirikan di Turki dan Timur Tengah meruntuhkan struktur
tradisional masyarakat di sana jauh sebelum Barat benar-
benar berkuasa. Ini merupakan bentuk kolonialisasi baru
sama sekali. Ketika Moghul menaklukkan India, populasi
hindu telah menyerap banyak unsur Muslim ke dalam budaya
mereka sendiri, tetapi akhirnya budaya pribumi berhasil
muncul kembali. Tatanan kolonial baru telah mengubah
kehidupan masyarakat yang ditaklukkannya untuk
selamanya, dengan memainkan taktik kebergantungan.
Adalah mustahil bagi wilayah terjajah itu untuk mengejar
ketertinggalan. Institusi-institusi lama telah diruntuhkan, dan
masyarakat Muslim terpecah ke dalam golongan orang yang
telah “terbaratkan” dan “yang lain”. Sebagian Muslim mulai
menerima penilaian Eropa tentang mereka sebagai “Orang
Timur”, disatukelompokkan dengan orang Hindu dan Cina
tanpa terbedakan. Sebagian lagi memandang rendah sejawat
mereka yang lebih tradisional. Di Iran, Syah Nasiruddin
(1848-96) menyatakan bahwa dia membenci rakyatnya. Apa
yang dahulunya merupakan sebuah peradaban yang hidup
~620~ (pustaka-indo)

