Page 624 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 624
http://pustaka-indo.blogspot.com
Jung dengan empatik menjawab: “Saya tidak berkewajiban
untuk percaya. Saya tahu!” Keimanan Jung yang berlanjut
menunjukkan bahwa Tuhan subjektif, yang secara misterius
diidentifikasi sebagai sumber wujud di kedalaman diri, dapat
diterima dalam psikoanalitik. Tidak demikian halnya dengan
konsepsi ketuhanan yang lebih personal dan antropomorfik
yang dapat mendorong langgengnya ketidakdewasaan.
Seperti banyak orang Barat lainnya, Freud tampaknya tidak
sadar akan Tuhan subjektif yang ada di dalam diri ini.
Meskipun demikian, dia mengajukan pendapat yang valid
ketika menyatakan bahwa penyingkiran agama merupakan
tindakan yang berbahaya. Orang akan bosan dengan Tuhan
pada saat yang tepat bagi mereka masing-masing:
memaksakan ateisme atau sekularisme kepada mereka
sebelum mereka siap bisa mengakibatkan penolakan dan
ketertekanan yang tak sehat. Telah kita saksikan bahwa
sikap ikonoklastik timbul dari kecemasan terpendam dan
proyeksi ketakutan kita sendiri terhadap “yang lain”.
Sebagian dari orang ateis yang ingin menyingkirkan Tuhan
memperlihatkan tanda-tanda ketegangan mental.
Schopenhauer, misalnya, meski mengajarkan tentang etika
berbela rasa, tidak mampu beradaptasi dengan manusia dan
menjadi penyendiri yang berkomunikasi hanya dengan anjing
pudelnya, Atman. Nietzsche adalah seorang pria berhati
lembut, kesepian, berpenyakit berat yang sangat berbeda
dengan citra Manusia Super yang dikonsepsikannya.
Akhirnya dia menjadi gila. Dia tidak menyingkirkan Tuhan
dengan gembira, sebagaimana yang mungkin terbayangkan
oleh kita saat membaca prosa ekstasinya. Dalam sebuah
puisi yang disampaikan “setelah gemetar, menggigil hebat,
dan meregang diri”, dia membuat Zarathustra memohon
kepada Tuhan untuk kembali:
Tidak! Kembalilah,
~617~ (pustaka-indo)

