Page 623 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 623

http://pustaka-indo.blogspot.com
             Sigmund  Freud  (1856-1939)  dengan  yakin  menganggap
             kepercayaan  kepada  Tuhan  sebagai  ilusi  yang  harus
             ditinggalkan  manusia  dewasa.  Gagasan  tentang  Tuhan
             bukanlah  suatu  kebohongan,  melainkan  sarana  alam  bawah
             sadar  yang  perlu  diuraikan  oleh  psikologi.  Tuhan  personal
             tidak  lebih  dari  figur  ayah  yang  dihormati:  kebutuhan  akan
             tuhan semacam itu muncul dari kerinduan masa kanak-kanak
             akan  ayah  yang  kuat  dan  melindungi,  akan  keadilan  dan
             kejujuran,  kehidupan  yang  akan  berlangsung  selamanya.
             Tuhan hanyalah proyeksi dari keinginan-keinginan seperti ini,
             ditakuti dan disembah oleh manusia akibat rasa tak berdaya
             di  dalam  diri.  Agama  ada  pada  tahap  kanak-kanak  umat
             manusia,  sebagai  tahap  yang  diperlukan  dalam  transisi  dari
             anak-anak  menuju  dewasa.  Agama  mendorong  nilai-nilai
             etika  yang  penting  bagi  masyarakat.  Kini  setelah  manusia
             mulai dewasa, maka agama harus ditinggalkan. Sains, logos
             baru,  bisa  menggantikan  kedudukan  Tuhan.  Sains  dapat
             memberi  landasan  baru  bagi  moralitas  dan  membantu  kita
             menghadapi berbagai kecemasan kita. Freud sangat empatik
             dalam  keyakinannya  terhadap  sains,  dengan  intensitas  yang
             nyaris  bersifat  religius:  “Tidak,  sains  kita  bukanlah  sebuah
             ilusi!  Adalah  ilusi  jika  mengatakan  bahwa  yang  tak  dapat
             diberikan oleh sains dapat kita peroleh dari yang lain.” 19

             Tidak  semua  psikoanalis  setuju  dengan  pandangan  Freud
             tentang  Tuhan.  Alfred  Adler  (1870-1937)  setuju  bahwa
             Tuhan  memang  proyeksi,  tetapi  percaya  bahwa  agama
             berguna  bagi  umat  manusia;  agama  merupakan  simbol
             kebaikan yang brilian dan efektif. Konsepsi C.G. Jung (1875-
             1961)  tentang  Tuhan  mirip  dengan  konsepsi  kaum  mistik;
             Tuhan  merupakan  sebuah  kebenaran  psikologis,  yang
             kehadirannya secara subjektif dirasakan oleh setiap individu.
             Ketika ditanya oleh John Freeman dalam wawancara Face
             to  Face  yang  terkenal  apakah  dia  percaya  kepada  Tuhan,



                            ~616~ (pustaka-indo)
   618   619   620   621   622   623   624   625   626   627   628