Page 626 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 626

http://pustaka-indo.blogspot.com
             (1880) dapat dilihat sebagai uraian tentang kematian Tuhan,
             mengisahkan konflik antara keimanan dan kepercayaan yang
             dialaminya dalam surat kepada seorang sahabat yang ditulis
             pada Maret 1854:


                   Aku  memandang  diriku  sendiri  sebagai  anak
                   kecil  ini,  anak  kekafiran  dan  keraguan;
                   mungkin,  oh  tidak,  aku  tahu  dengan  pasti,
                   bahwa  aku  akan  tetap  demikian  hingga  aku
                   mati.  Aku  tersiksa  oleh  kerinduan  untuk
                   percaya—aku  begitu  rindu,  sungguh,  bahkan
                   kini;  dan  kerinduan  itu  tumbuh  semakin  kuat
                   seiring     semakin      kukuhnya     rintangan
                   intelektual yang menghadang. 22
             Novelnya  memperlihatkan  ambivalensi  yang  sama.  Ivan,
             yang  disebut  ateis  oleh  beberapa  tokoh  lain  (yang
             menisbahkan  kepadanya  ungkapan  yang  kini  menjadi
             terkenal:  “Jika  Tuhan  tidak  ada,  semuanya  dibolehkan”),
             dengan  jelas-jelas  menyatakan  bahwa  dia  percaya  kepada
             Tuhan.  Namun,  dia  tidak  merasa  bahwa  Tuhan  ini  dapat
             diterima sebab tidak memberi makna bagi tragedi kehidupan.
             Ivan  tidak  terusik  oleh  teori  evolusi,  tetapi  oleh penderitaan
             manusia  dalam  sejarah:  kematian  seorang  anak  lebih
             berharga  daripada  perspektif  agama  bahwa  semua  akan
             selamat.  Akan  kita  lihat  pada  bagian  akhir  bab  ini  bahwa
             orang  Yahudi  tiba  pada  kesimpulan  yang  sama.  Sebaliknya,
             Alyosha  yang  alim  justru  mengaku  tidak  percaya  kepada
             Tuhan—sebuah  pengakuan  yang  tampaknya  terlontar
             darinya secara tidak sengaja, melesat dari sudut hatinya yang
             tak  pernah  terpetakan.  Ambivalensi  dan  ketidakpedulian
             yang samar terus mewarnai sastra abad kedua puluh, dengan
             gambarannya  tentang  tanah  gersang  dan  manusia  menanti
             godot yang tak pernah datang.

             Di  Dunia  Muslim  berkembang  kegelisahan  yang  serupa,



                            ~619~ (pustaka-indo)
   621   622   623   624   625   626   627   628   629   630   631