Page 629 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 629
http://pustaka-indo.blogspot.com
mewariskan ilmu dialektika yang lebih tinggi,
generasi penerus mereka memiliki kekurangan
luar biasa dalam hal pemikiran logis. Mereka
sering tak mampu menarik kesimpulan yang
sangat jelas dari premis sederhana yang telah
24
mereka akui kebenarannya.
Salah satu “problem” yang mesti diatasi adalah Islam. Citra
negatif tentang Nabi Muhammad Saw. dan agamanya telah
berkembang di dunia Kristen pada masa Perang Salib dan
terus berkembang bersama sikap antiSemitisme Eropa.
Selama masa penjajahan, Islam dipandang sebagai agama
fatalistik yang secara kronis menentang kemajuan. Lord
Cromer, misalnya, mencela usaha pembaru Mesir,
Muhammad Abduh, dengan mengatakan bahwa adalah
mustahil bagi “Islam” untuk mereformasi dirinya sendiri.
Kaum Muslim tidak mempunyai banyak waktu atau energi
untuk mengembangkan pemahaman tradisional mereka
tentang Tuhan. Mereka sibuk dalam upaya mengejar
ketertinggalan dari Barat. Ada yang melihat bahwa
sekularisme Barat merupakan jawabannya, namun hal yang
positif dan menyegarkan di Barat mungkin menjadi aneh dan
asing di Dunia Islam, karena tidak tumbuh secara alamiah di
dalam tradisi mereka sendiri. Di Barat, “Tuhan” dipandang
sebagai suara keterasingan; di Dunia Islam suara tersebut
berasal dari proses kolonial. Karena tercerabut dari akar
budaya sendiri, orang-orang merasa kehilangan arah dan
putus asa. Sebagian pembaru Muslim berupaya
mempercepat langkah kemajuan dengan secara paksa
meletakkan Islam pada posisi minor. Akibatnya sama sekali
tidak seperti yang mereka harapkan. Di negara-bangsa baru
Turki, yang lahir setelah keruntuhan kekaisaran Usmani pada
1917, Mustafa Kemal (1881-1938), kemudian dikenal sebagai
Kemal Atatürk, berusaha mengubah negerinya menjadi
~622~ (pustaka-indo)

