Page 635 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 635
http://pustaka-indo.blogspot.com
yang senantiasa diliputi misteri. Yang dapat kita pastikan
hanyalah bahwa Tuhan tidak menyerupai wujud mana pun.
Semua persoalan yang diperdebatkan oleh para teolog tidak
berdasar dan dinyatakan oleh Al-Quran sebagai zhanna
(prasangka).
Tokoh pembaru terkemuka di India adalah Sir Muhammad
Iqbal (1877-1938) yang di kalangan umat Islam memiliki
kedudukan yang setara dengan Gandhi bagi umat Hindu. Dia
seorang yang sangat kontemplatif—seorang sufi dan ahli
sastra Urdu—namun juga memiliki latar pendidikan Barat
dan bergelar doktor di bidang filsafat. Dia sangat mengagumi
Bergson, Nietzsche, dan A.N. Whitehead serta berupaya
untuk memperkuat kembali filsafat melalui pandangan tokoh-
tokoh itu, dengan memandang dirinya sebagai jembatan
penghubung antara Timur dan Barat. Dia prihatin atas apa
yang dilihatnya sebagai kemunduran Islam di India. Sejak
jatuhnya kerajaan Moghul pada abad kedelapan belas, kaum
Muslim India merasa berada dalam posisi yang serbasalah.
Mereka tidak percaya pada saudara-saudara mereka di
Timur Tengah, tempat Islam dilahirkan. Akibatnya mereka
menjadi semakin defensif dan merasa tidak aman dihadapan
penjajah Inggris. Iqbal berusaha menyembuhkan derita
umatnya dengan melakukan rekonstruksi kreatif terhadap
prinsip-prinsip pemikiran Islam melalui puisi dan filsafat.
Dari filosof Barat semacam Nietzsche, Iqbal menyerap arti
penting individualisme. Seluruh alam, menurut Iqbal, mewakili
Yang Mutlak yang merupakan bentuk tertinggi individuasi
dan yang oleh manusia disebut “Tuhan”. Untuk mewujudkan
keunikan mereka, semua manusia harus menjadi semakin
menyerupai Tuhan. Ini berarti setiap manusia harus menjadi
lebih individual, lebih kreatif, dan mesti mengungkapkan
kreativitas ini dalam perbuatan. Sikap pasif dan rasa puas diri
~628~ (pustaka-indo)

