Page 639 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 639

http://pustaka-indo.blogspot.com
             tradisionis  yang  teguh,  yang  lebih  memandang  agamanya
             sebagai sebuah gagasan transenden daripada sebagai entitas
             politik  dan  historis.  Islam  lebih  merupakan  dorongan  bagi
             tindakan  masa  depan  daripada  realitas  yang  telah  terwujud
             sepenuhnya.  Karena  selalu  sulit—  bahkan  mustahil—untuk
             menubuhkan citra ideal Tuhan di dalam kehidupan manusia,
             Husain  tidak  terusik  oleh  kegagalan  ummah  di  masa  lalu
             maupun di masa sekarang. Dia cukup yakin untuk mengkritik
             perilaku  kaum  Muslim,  dan  kata-kata  “harus”  atau  “mesti”
             bertebaran  di  seluruh  edisi  jurnal  itu  selama  dia  menjabat.
             Namun, jelas pula bahwa Husain tidak dapat membayangkan
             duka seseorang yang ingin percaya, tetapi ternyata tak bisa
             percaya:  realitas  Allah  sudah  diterima  begitu  saja.  Dalam
             salah  satu  edisi  awal,  sebuah  artikel  oleh  Yusuf  Al-Dijni
             menguraikan  argumen  teleologis  kuno  tentang  eksistensi
             Tuhan.  Smith  mencatat  bahwa  gaya  tulisannya  sangat
             menghormat  dan  mengungkapkan  apresiasi  mendalam
             terhadap keindahan dan keagungan semesta mengungkapkan
             keberadaan Tuhan. Al-Dijni tidak pernah meragukan bahwa
             Tuhan  itu  ada.  Artikelnya  lebih  merupakan  perenungan
             daripada demonstrasi logis tentang eksistensi Tuhan, dan dia
             tidak peduli bahwa para ilmuwan Barat telah semenjak lama
             menghancurkan  “bukti”  semacam  ini.  Sikap  semacam  ini
             telah  ketinggalan  zaman.  Sirkulasi  majalah  itu  pun  merosot
             tajam.


             Ketika  Farid  Wajdi  mengambil  alih  pada  1933,  jumlah
             pembacanya  meningkat  dua  kali  lipat.  Pertimbangan  utama
             Wajdi  adalah  meyakinkan  para  pembacanya  bahwa  Islam
             “baik-baik saja”. Tak pernah terpikirkan oleh Husain bahwa
             Islam,  sebuah  gagasan  transenden  di  dalam  pikiran  Tuhan,
             mungkin  membutuhkan  penolong.  Sebaliknya,  Wajdi
             memandang  Islam  sebagai  institusi  manusia  yang  sedang
             terancam.    Kebutuhan    paling   mendesak     adalah




                            ~632~ (pustaka-indo)
   634   635   636   637   638   639   640   641   642   643   644