Page 641 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 641
http://pustaka-indo.blogspot.com
Dalam The Religion of the Spirit (1841), dia
menggambarkan Tuhan sebagai Jiwa dunia yang imanen di
dalam segala sesuatu. Akan tetapi, Jiwa ini tidak tergantung
pada dunia, sebagaimana dikemukakan Hegel. Formstecher
mengajarkan bahwa Jiwa itu berada di luar jangkauan akal,
merujuk kembali kepada pembedaan antara esensi Tuhan
dan aktivitasnya. Hegel menggunakan bahasa
representasional, sedangkan Formstecher berpendapat
bahwa simbolisme merupakan satu-satunya alat yang
memadai untuk berbicara tentang Tuhan, sebab dia berada di
luar jangkauan konsep-konsep filosofis. Namun demikian,
Yudaisme merupakan agama pertama yang tiba pada
konsepsi ketuhanan yang lebih maju dan tak lama kemudian
memperlihatkan kepada seluruh dunia bagaimana sebenarnya
agama yang betul-betul bersifat spiritual.
Agama primitif dan pagan telah menyamakan Tuhan dengan
alam, demikian menurut Formstecher. Periode yang spontan
dan tanpa refleksi ini mewakili tahap kanak-kanak umat
manusia. Ketika manusia telah mencapai derajat kesadaran
diri yang lebih tinggi, mereka siap untuk bergerak ke arah
gagasan ketuhanan yang lebih canggih. Mereka mulai
menyadari bahwa “Tuhan” atau “Jiwa” ini tidak terdapat di
dalam alam, namun berada lebih tinggi atau di atasnya. Para
nabi yang telah mencapai konsepsi ketuhanan baru ini
menyebarkan sebuah agama etik. Pada mulanya mereka
meyakini bahwa wahyu yang mereka terima datang dari
kekuatan yang berada di luar diri mereka, tetapi lambat laun
mereka mengerti bahwa wahyu itu tidak bergantung kepada
Tuhan yang sepenuhnya berada di luar, tetapi juga diilhami
oleh kehadiran Jiwa di dalam diri mereka sendiri. Orang
Yahudi merupakan kaum pertama yang tiba pada konsepsi
etis tentang Tuhan. Tahun-tahun panjang di pengasingan dan
runtuhnya kuil mereka telah menghapuskan rasa
~634~ (pustaka-indo)

