Page 649 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 649
http://pustaka-indo.blogspot.com
yang mandiri karena telah mengidentifikasi diri dengan
semangat kebangsaan baru, meskipun dia tidak sepakat
bahwa suatu negara Yahudi dapat didirikan di Palestina. Dia
hanya menginginkan sebuah “pusat spiritual” di sana untuk
menggantikan Tuhan sebagai satu-satunya fokus bangsa
Israel. Pusat spiritual itu akan menjadi “pembimbing bagi
semua urusan kehidupan”, mencapai “kedalaman hati” dan
“tersambung dengan seluruh perasaan”. Kaum Zionis telah
mengubah orientasi keagamaan lama. Alih-alih diarahkan
kepada Tuhan yang transenden, orang Yahudi justru
mencarinya di dunia ini. Istilah Ibrani hagshamah (secara
harfiah berarti “mengonkretkan”) merupakan istilah negatif
dalam filsafat Yahudi abad pertengahan, merujuk pada
kebiasaan menisbahkan karakteristik manusia atau fisikal
kepada Tuhan. Dalam Zionisme, hagshamah diartikan
sebagai pencapaian, perwujudan harapan-harapan Israel di
dunia. Kesucian tidak lagi bersemayam di langit: Palestina
merupakan tanah “suci” dalam pengertian yang seutuhnya.
Derajat kesucian itu bisa dilihat dalam tulisan-tulisan pelopor
pertama Aaron David Gordon (w. 1922), yang merupakan
Yahudi Ortodoks dan Kabbalis hingga usia empat belas tahun
sebelum beralih ke Zionisme. Seorang lelaki yang lemah dan
sakit-sakitan dengan rambut dan jenggot putih, Gordon
bekerja di lapangan bersama para pemukim muda,
berjingkrakan dengan mereka di malam hari dalam ekstasi
seraya berteriak: “Bahagia! … Bahagia!” Dahulu kala,
demikian dia menulis, pengalaman penyatuan kembali dengan
tanah Israel disebut sebagai pengungkapan Shekinah. Tanah
Suci telah meraih nilai yang sakral; ia memiliki kekuatan
spiritual yang hanya bisa dicapai oleh orang Yahudi, yang
telah menciptakan spirit Yahudi yang unik. Ketika melukiskan
kesucian ini, Gordon menggunakan istilah-istilah Kabbalistik
yang dahulu pernah diterapkan bagi alam Tuhan yang
~642~ (pustaka-indo)

