Page 666 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 666

http://pustaka-indo.blogspot.com
             simboliknya.

             Ketika  Tillich  berbicara  kepada  orang  awam,  dia  senang
             mengganti istilah “Sumber Segala Wujud” yang agak teknis
             itu  dengan  “Yang  Mahapeduli”.  Dia  menekankan  bahwa
             pengalaman manusia mempercayai “Tuhan di atas Tuhan” ini
             bukanlah  keadaan  ganjil  yang  dapat  dibedakan  dari
             pengalaman  emosional  atau  intelektual  lain.  Anda  tidak
             mungkin  berkata:  “Kini  saya  mempunyai  pengalaman
             ‘keagamaan’  khusus,”  sebab  Tuhan  yang  Wujud  itu
             mendahului  dan  bersifat  fundamental  bagi  semua  emosi
             semangat,  harapan,  dan  keputusasaan  kita.  Ini  bukanlah
             keadaan yang dapat dinamai tersendiri, namun meliputi setiap
             pengalaman kemanusiaan yang normal. Seabad sebelumnya,
             Feuerbach  telah  membuat  klaim  serupa  ketika  mengatakan
             bahwa  Tuhan  tidak  bisa  dipisahkan  dari  psikologi  manusia
             normal. Kini, ateisme ini telah berubah menjadi teisme baru.

             Para  teolog  liberal  berusaha  membuktikan  apakah  mungkin
             untuk  beriman  dan  sekaligus  menjadi  bagian  dari  dunia
             intelektual  modern.  Ketika  merumuskan  konsepsi  baru
             tentang Tuhan, mereka berpaling ke disiplin ilmu lain: sains,
             psikologi, sosiologi dan agama-agama lain. Lagi-lagi, tak ada
             yang  baru  dalam  usaha  ini.  Origen  dan  Clement  dari
             Aleksandria telah menjadi Kristen liberal dalam pengertian ini
             pada abad ketiga tatkala mereka memasukkan Platonisme ke
             dalam agama Semitik Yahweh. Kini Jesuit Pierre Teilhard de
             Chardin  (1881-1955)  memadukan  kepercayaannya  kepada
             Tuhan dengan sains modern. Dia adalah seorang paleontolog
             dengan  ketertarikan  khusus  pada  kehidupan  prasejarah  dan
             menuliskan teologi baru berdasarkan pemahamannya tentang
             evolusi.  Dia  memandang  seluruh  pertarungan  evolusioner
             sebagai kekuatan ilahi yang mendorong alam semesta untuk
             berubah  dari  materi  menjadi  ruh  menjadi  personalitas  dan,




                            ~659~ (pustaka-indo)
   661   662   663   664   665   666   667   668   669   670   671