Page 686 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 686
http://pustaka-indo.blogspot.com
dikecewakan oleh ilmuwan semacam Stephen Hawking,
yang tidak memberi ruang untuk Tuhan di dalam
kosmologinya, mereka mungkin masih berpikir tentang Tuhan
dalam terma antropomorfik sebagai Wujud yang telah
menciptakan alam sebagaimana layaknya kita, manusia,
membuat sesuatu. Namun, kisah penciptaan sejak awal tidak
untuk dipahami secara harfiah seperti itu. Pengertian tentang
Yahweh sebagai Pencipta belum masuk ke dalam Yudaisme
hingga pengusiran ke Babilonia. Ini adalah sebuah konsepsi
yang asing bagi alam pikiran Yunani: penciptaan dari
ketiadaan (ex nihilo) bukanlah doktrin resmi Kristen
sebelum Konsili Nicaea pada tahun 341. Penciptaan
merupakan ajaran inti Al-Quran, namun, sebagaimana semua
ungkapan Al-Quran tentang Tuhan, ini juga merupakan
“kiasan” atau “tanda” (ayat) dari suatu kebenaran yang tak
terucapkan. Kaum rasionalis Muslim dan Yahudi
merasakannya sebagai sebuah doktrin yang sulit dan
problematik, dan banyak di antara mereka yang menolaknya.
Kaum sufi dan Kabbalis lebih menyukai kiasan Yunani
tentang emanasi. Pendek kata, kosmologi bukanlah
penjelasan ilmiah tentang asal usul alam, namun pada
dasarnya merupakan ungkapan simbolik tentang kebenaran
spiritual dan psikologis. Oleh karena itu, tidak timbul banyak
penolakan terhadap sains baru di dunia Muslim: sebagaimana
telah kita saksikan, peristiwa-peristiwa historis terbaru lebih
dirasakan sebagai ancaman terhadap konsepsi ketuhanan
tradisional dibanding berbagai penemuan sains. Akan tetapi
di Barat, pemahaman harfiah tentang kitab suci telah
tertanam sejak lama. Ketika beberapa orang Kristen Barat
merasa keimanan mereka kepada Tuhan digoyahkan oleh
sains baru, mereka mungkin membayangkan Tuhan sebagai
Mekanik agung yang dikonsepsikan Newton, sebuah
pandangan ketuhanan personalistik yang harus ditolak atas
dasar alasan-alasan keagamaan maupun ilmiah. Tantangan
~679~ (pustaka-indo)

