Page 186 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 186
3. Optimalkan Guru Honorer
Optimalisasi guru-guru honorer untuk memenuhi kebutuh-
an guru di sekolah-sekolah formal, baik yang diselenggarakan
oleh pemerintah maupun swasta, merupakan salah satu cara
untuk memenuhi kekurangan guru. Caranya adalah memberikan
jam yang maksimal kepada mereka agar tidak mengajar di banyak
tempat. Selama ini, para guru honorer, terutama di sekolah-
sekolah negeri, selalu diperlakukan sewenang-wenang dan jam
belajarnya dikurangi bila guru itu kritis terhadap kebijakan kepala
sekolah. Kepala sekolah banyak yang memilih kekurangan guru
daripada memberi jam yang banyak kepada guru-guru honorer
(yang kritis). Bila para guru honorer itu dapat dimaksimalkan
dengan konsekuensi ada perbaikan kesejahteraan, maka keha-
diran mereka dapat memberikan konstribusi signifikan pada
perbaikan mutu pendidikan nasional.
Mengangkat guru kontrak untuk memenuhi kebutuhan guru
di sekolah-sekolah formal memiliki banyak risiko. Pertama, bila
yang diangkat adalah lulusan baru, tingkat kematangan iwa
j
mereka diragukan. Mereka belum memiliki jam terbang sebagai
pengajar, padahal untuk menjadi guru yang baik pengalaman
sangat menentukan. Saat mereka memulai terbang kontraknya
sudah habis. Padahal dalam mengajar murid, kedewasaan diri
atau kematangan jiwa menjadi nomor satu.
Kedua, mengangkat guru kontrak juga m e m b u t u h k a n
anggaran lebih banyak. Di lain pihak, honor guru kontrak sebesar
Rp 200.000 per bulan terlalu kecil sehingga kinerjanya kemung-
s
kinan amat buruk. Tapi, honor yang ama besarnya akan menjadi
daya tarik tersendiri bagi PNS yang mau alih fungsi menjadi
guru.
Ketiga, belajar dari pengangkatan petugas keamanan rakyat
(Kamra), dokter pegawai tidak tetap (Dokter PTT), dan pegawai-
pegawai kontrak lain yang selalu menimbulkan persoalan baru,
karena setelah masa kontrak habis, mereka menuntut menjadi

