Page 183 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 183

tapi  secara  kualitatif  tidak  memberikan   kontribusi  perbaikan
               mutu   pendidikan   nasional.

                    Menurut   hemat   penulis,  sebetulnya  pemerintah  tidak  perlu
               tergesa-gesa   mengambil    kebijakan   mengankat    guru   kontrak,
               karena  masih  ada  alternatif  lain  yang  lebih  efektif,  efisien,  dan
               bermutu   untuk  memecahkan     persoalan  ini,  yaitu  dengan  meng-
               alihfungsikan  pegawai   negeri  sipil  (PNS)  yang  tidak  fungsional
               untuk  menjadi   guru  dan  mengoptimalkan     peran  guru   honorer
               yang ada.  Pengalihan  fungsi  ini penting,  karena  menurut  Menteri
               Negara   pendayagunaan    Aparatur   Negara   (Menneg   PAN)   Faisal
               Tamin,   hanya   4 7 %  PNS   yang  efektif  (fungsional).   Jika  di
               Indonesia  kini,  ada  dua  juta  lebih  PNS  nonguru/dosen,  berarti
               lebih  dari  satu  juta  PNS  tidak  fungsional.  Penjelasan  itu  tidak
               mengagetkan,    tapi  hanya  membenarkan     anggapan    masyarakat
               selama   ini,  bahwa  PNS  tidak  ada  kerjanya.  Rata-rata  mereka
               sibuk  antara  pukul  08.00-10.00,  setelah  itu  duduk-duduk  sambil
               ngerumpi,  main  catur,  atau  baca  koran.  Padahal,  mereka  digaji
               oleh  negara.  Ujung-ujungnya,   bila  melayani  masyarakat,  diper-
               lama  agar  bisa  memungut     biaya  tambahan,    alias  melakukan
               pungli.  Mental  pegawai   yang  kerdil  itu  sudah  lama  dikeluhkan
               oleh  masyarakat,  tetapi  tidak  ada  perbaikan  kinerja  yang  siste-
               matis dari  pemerintah.  Diakui atau  tidak,  mental  PNS itulah  yang
               mendidik    bangsa  ini  menjadi  korup.   Buktinya,  tiap  kegiatan
               pungli,  bila  dicari  ujungnya,  ada  dibirokrasi  pemerintahan  yang
               identik  dengan  PNS.   Itu  tak  lepas  dari  warisan  kebijakan  Orde
               Baru.  Pengangkatan   PNS dalam jumlah    yang  melebihi  kebutuhan
               saat  itu,  tak  lain  dimaksudkan  sebagai  instrumen  politik  untuk
               memenangkan     Golkar  dalam   setiap  Pemilu.  Seperti  kita  ketahui,
               semua   PNS   pada  waktu   itu  adalah  Golkar,  sebab  kalau  tidak
               ikut Golkar, dikeluarkan dari  PNS.  PNS yang tidak ingin  kehilangan
               statusnya   pasti  akan  mengajak    anggota   keluarganya    untuk
                                                                      j
               memilih   Golkar.  Dengan   kata  lain,  semakin  besar umlah   PNS,
               semakin    tinggi  pula  peluang   Golkar    untuk  menang.     Nah,
                                                   c
               pasca reformasi, jumlah  PNS yang ukup     besar  itu  menjadi  beban
               berat  bagi  negara.
   178   179   180   181   182   183   184   185   186   187   188