Page 78 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 78
Jika kita bertanya, bagaimana pendidikan menghadapi
reformasi? Maka jawaban yang diperoleh adalah frustasi, sebab
kita tidak menemukan perubahan apa-apa. Korupsi-kolusi dan
suasana bisnis tetap merajalela dalam kehidupan birokrasi
pendidikan. Materi pelajaran dan metode mengajar belum ada
yang berubah. Guru tetap sebagai penatar atau komandan. Mo-
del evaluasi terhadap siswa maupun sekolah oleh Kanwil (seka-
rang Dinas) tetap sama. Dan cara menyikapi perubahan pun
sama seperti masa Orde Baru: murid takut kepada guru, guru
takut kepada kepala sekolah, kepala sekolah takut kepada
pengawas, pengawas takut kepada Kakanwil (sekarang Kepala
Dinas Pendidikan), Kepala Dinas takut kepada bupati/walikota
(dan tidak tahu, apakah menteri takut kepada presiden?). Jadi
belum ada reformasi sama sekali dalam institusi pendidikan
nasional. Yang ada hanya perubahan nama dan penanggung
jawab saja.
Bila kita bandingkan antara buruh dengan guru dalam
menghadapi perubahan, maka buruh terbukti jauh lebih respon-
sif dan berani daripada guru, terutama menyangkut perubahan
kebijakan pemerintah. Tapi guru, meski lebih tinggi pendidikan-
nya dan seharusnya selalu mengikuti informasi baru, sikap mere-
ka terhadap perubahan sangat lamban dan cenderung defensif.
Buktinya, beberapa kebijakan Menteri P dan K selama krisis ter-
nyata berhenti sebatas kebijakan dan tidak terimplementasi pada
tingkat bawah. Padahal, kebijakan-kebijakan menteri itu disam-
paikan melalui televisi dan radio sehingga, logikanya, dapat diak-
ses oleh semua warga.
Kita bisa ambil contoh paling baru, soal Program Pendaf-
taran Dini untuk anak Prasejahtera dan Sejahtera I. Meski di
media elektronik dan cetak tiap hari diiklankan program ter-
sebut, ketika kita bertanya ke para guru (di Jakarta dan
Yogyakarta) mengenai implementasinya, maka jawabannya sa-
ma: "Kami hanya tahu dari koran dan TV, tapi tidak tahu bagai-
mana pelaksanaannya di lapangan. Yang jelas, sampai sekarang
sekolah belum memperoleh petunjuk pelaksanaan."

