Page 82 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 82

Rusak,     Pendidikan       di   Era  Otonomi        Derah












              P   elaksanaan otonomi daerah mulai 2001   di  tingkat kabupaten/



                  kota  memiliki   makna   ganda  bagi  pelaksanaan   jalannya
              pendidikan   nasional.  Di  satu  pihak,  otonomi  daerah  memberi-
              kan  banyak  peluang  untuk  terjadi  perubahan  di  tingkat  daerah,
              karena  daerah  memiliki  kewenangan sendiri,  dibanding  dengan
              sistem yang sentralistik. Tapi  pada sisi  lain, otonomi daerah seka-
              ligus  memberikan  sejumlah  ancaman  yang serius  dalam  tatanan
              kehidupan    politik  di  daerah,  termasuk  bidang  pendidikan
              nasional.
                   Tatkala  otonomi   daerah  masih  menjadi   wacana,  seperti
              pada  masa  Orde  Baru —yang   mengujicobakan   pelaksanaan  oto-
              nomi  daerah  ke  beberapa  daerah  yang  dipandang  mampu —ba-
              nyak  orang  berharap,  pelaksanaan   otonomi  daerah  akan  ber-
              dampak   positif bagi  perkembangan  pendidikan  nasional,  karena
              daerah   memiliki  kewenangan    untuk   menentukan    kebijakan
              sendiri  tanpa  harus menunggu  komando dari atas. Selama sistem
              politik  masih  sentralistik,  semua  kebijakan,  termasuk  dalam
              bidang  pendidikan,  diatur  oleh  pusat.  Daerah  tinggal  menjalan-
              kan  saja  sesuai  dengan  penafsiran  mereka.  Bila  mereka  salah
              dalam   menafsirkan,  mereka  akan  mencari  perlindungan   pada
              belum adanya juklak (petunjuk pelaksanaan) dan juknis (petunjuk
              teknis).  Dengan  berlindung  pada  dua  hal  itu,  mereka  terbebas
              dari  tuntutan  kesalahan.
   77   78   79   80   81   82   83   84   85   86   87