Page 83 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 83

Namun,   setelah  UU  No.  22  Tahun  1999  tentang  Pemerin-
             tahan  Daerah  yang  mengatur  soal  pelaksanaan  otonomi  daerah
             itu  dilaksanakan,  yang  terjadi  di  lapangan  tidak  seindah  yang
             dibayangkan   sebelumnya.   Kecemasan   para  ahli  politik,  aktivis
             LSM   (Lembaga   Swadaya   Masyarakat),  dan  masyarakat  bahwa
             otonomi  daerah  akan  melahirkan  raja-raja  kecil  pada  tingkat  bu-
             pati/walikota,  ternyata  menjadi  kenyataan.  Munculnya  raja-raja
             kecil  di  daerah  itu  dengan  sendirinya  melahirkan  feodalisme
             baru  di  masyarakat. Tak sedikit  bupati/wakilota yang  berangan-
             angan  hidup  pada  zaman  feodalisme  kuno;  mereka  menyeleng-
             garakan upacara arak-arakan di  kota dengan melibatkan segenap
             lapisan  masyarakat.  Sang  bupati/walikota   biasanya  memakai
             pakaian  adat  dan  naik  kereta  kencana,  membo-membo  (berangan-
             angan  menyerupai)   keagungan   raja  Mataram  zaman  dulu.  Feo-
             dalisme  baru  tersebut  kemudian  mewarnai  sikap,  perilaku,  dan
             cara  pengambilan   keputusan  mereka   untuk  hal-hal  yang  me-
             nyangkut kepentingan   publik.  Pengambilan  keputusan, termasuk
             penempatan   pejabat baru,  tidak didasarkan  pada  prinsip-prinsip
             meritokrasi,  tapi  pada  prinsip  kedekatan  atau  likedislike.  Sehing-
             ga,  tak  jarang  yang  diangkat  untuk  menduduki  jabatan-jabatan
             strategis itu orang-orang yang belum  tentu  memiliki kemampuan
             dan  integritas,  tapi  karena  mereka  dekat  dengan  bupati/wali-
             kota  saja.


                  Kondisi  yang  buruk  itu  juga  terjadi  pada  bidang  pendi-
             dikan.  Awal   kecemasan   masyarakat    terhadap   pelaksanaan
             otonomi  daerah  ini  adalah  ketika  yang diangkat  menjadi  Kepala
             Dinas Pendidikan Nasional (Kepala Diknas) — pengganti Kandep
             (Kantor  Departemen)  P  dan  K —adalah  orang-orang  yang  berla-
             tar  belakang  nonpendidikan.  Artinya,  mereka  sebelumnya  tidak
             pernah  menangani bidang pendidikan, baik sebagai guru,   kepala
             sekolah,  pengawas,  atau  staf  di  lingkungan  Departemen  Pendi-
             dikan  Nasional.  Sebaliknya,  yang  banyak   terjadi,  mayoritas
             mantan  camat  adalah  pejabat  sospol  yang  lebih  paham  bermain
             politik  dan  mengendalikan   massa  daripada  mengembangkan
   78   79   80   81   82   83   84   85   86   87   88