Page 142 - Sejarah Bencana Gempa di Sumatera
P. 142
142 JEJAK KEARIFAN LOKAL DALAM MITIGASI BENCANA GEMPA DI DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT
Rumah adat minangkabau pembangunannya
dimulai dari perencanaan yang matang yaitu
sejak pemilihan lokasi, bahan, arsitektur
dan aksesorisnya. Kemampuan untuk
memilih tapak atau lahan, yang kemudian
dapat berubah menjadi strategi tapak,
seperti bagaimana menempatkan rumah
di antara pepohonan yang rimbun supaya
panas matahari dan udara dapat dikurangi,
dan rumpun bambu berjejer mampu
mengurangi terpaan angin yang kencang.
Dialog dengan alam juga terjadi, ketika
pemilihan material bangunan yang tersedia
di sekelilingnya dimanfaatkan secara cerdas
dan berkesinambungan. Rumah gadang
(atau rumah tradisional) adalah bentuk dialog
Gambar 3.13. Ragam
manusia dengan alam lingkungannya. Kayu-
ukir khas Minangkabau
pada dinding bagian kayu besar sebagai stuktur utama diambil
luar dari rumah gadang dengan tingkat tebang-pilih yang cermat,
serta pemanfaatan bahan yang efektif
beterbangan, semut memanjat tumbuhan sehingga tidak ada yang tersisa.
(kelapa dan pohon yang ada di pantai), Pemilihan sistem struktur merupakan
binatang peliharaan seperti kucing dan solusi dari usaha melawan gaya gravitasi
ayam berkumpul sekitar rumah. Upaya yang secara rasional. Atau dengan kata lain
dilakukan masyarakat untuk penyelamatan rasionalitas struktur tetap terjaga dengan
diri dari bencana Tsunami adalah mengungsi baik, sehingga bangunan sepertinya menyatu
ke tempat yang tinggi (bukit dan gunung). dengan alam. Goncangan gempa dapat
Di antara tanda-tanda tsunami adalah jika diimbangi dengan sistem struktur yang
pecahan bumi mengeluarkan air tanah tidak kaku dan elastis, hujan dan panas terik
hitam, semut bergerak menuju dataran matahari disiasati oleh pemakaian material
tinggi, untuk mengatasi tsunami masyarakat yang tahan air, dan seterusnya. Demikian
telah mempercayai pohon cemara dan pula dengan keindahan, simbol dan bentuk
kelapa. Masyarakat juga mengadakan tolak bangunan, adalah konsekuensi logis dari
bala (tulak bala) pada hari Rabu abis, dimana olahan material bangunan, susunan dan
mereka mengadakan kenduri di tepi pantai komposisi sistem struktur.
membuat rakit pisang lalu diletakkan sesajian Bagaimana dampak gempa besar September
lain kemudian dibuang ke laut (buang sial) tahun 2009 lalu terhadap bangunan di Kota
tradisi ini diadakan tiap tahun. Padang dan sekitarnya. Dari karakteristik
kerusakan dapat kita pelajari bahwa
a. Arsitektur dan Struktur Rumah Adat Minang banyaknya bangunan enjinering yang rusak
Sebagai kearifan lokal secara fisik depannya dan bahkan roboh. Penyebab utama adalah

