Page 144 - Sejarah Bencana Gempa di Sumatera
P. 144
144 JEJAK KEARIFAN LOKAL DALAM MITIGASI BENCANA GEMPA DI DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT
lanjar bergantung pada besar rumah, bisa dan dibagi atas dua bahagian, muka dan
dua, tiga dan empat. Ruangnya terdiri dari belakang. Bagian depan dari Rumah Gadang
jumlah yang ganjil antara tiga dan sebelas. biasanya penuh dengan ukiran ornamen
Rumah Gadang biasanya dibangun dan umumnya bermotif akar, bunga, daun
diatas sebidang tanah milik keluarga induk serta bidang persegi empat dan genjang.
dalam suku/kaum tersebut secara turun Sedangkan bagian luar belakang dilapisi
temurun dan hanya dimiliki dan diwarisi dengan belahan bambu. Rumah tradisional
dari dan kepada perempuan pada kaum ini dibina dari tiang-tiang panjang, bangunan
tersebut. Dihalaman depan Rumah Gadang rumah dibuat besar ke atas, namun tidak
biasanya selalu terdapat dua buah bangunan mudah rebah oleh goncangan, dan setiap
Rangkiang, digunakan untuk menyimpan elemen dari Rumah Gadang mempunyai
padi. Rumah Gadang pada sayap bangunan makna tersendiri yang dilatari oleh tambo
sebelah kanan dan kirinya terdapat ruang yang ada dalam adat dan budaya masyarakat
anjung (Bahasa Minang: anjuang) sebagai setempat. Pada umumnya Rumah Gadang
tempat pengantin bersanding atau mempunyai satu tangga yang terletak pada
tempat penobatan kepala adat, karena itu bagian depan. Sementara dapur dibangun
rumah Gadang dinamakan pula sebagai terpisah pada bagian belakang rumah yang
rumah Baanjuang. Anjung pada kelarasan didempet pada dinding.
KotoPiliang memakai tongkat penyangga, Wilayah Minangkabau terbilang rawan
sedangkan pada kelarasan BodiChaniago gempa karena berada di lintasan Bukit
tidak memakai tongkat penyangga di Barisan, maka arsitektur Rumah Gadang
bawahnya. Hal ini sesuai filosofi yang dianut juga memperhitungkan desain yang tahan
kedua golongan ini yang berbeda, golongan gempa. Seluruh tiang Rumah Gadang tidak
pertama menganut prinsip pemerintahan ditanamkan ke dalam tanah, tapi bertumpu
yang hirarki menggunakan anjung yang ke atas batu datar yang kuat dan lebar.
memakai tongkat penyangga, pada golongan Seluruh sambungan setiap pertemuan
kedua anjuang seolah-olah mengapung tiang dan kasau (kaso) besar tidak memakai
di udara. Tidak jauh dari komplek Rumah paku, tapi memakai pasak yang juga terbuat
Gadang tersebut biasanya juga dibangun dari kayu. Ketika gempa terjadi Rumah
sebuah surau kaum yang berfungsi sebagai Gadang akan bergeser secara fleksibel
tempat ibadah, tempat pendidikan dan seperti menari di atas batu datar tempat
juga sekaligus menjadi tempat tinggal lelaki tonggak atau tiang berdiri. Begitu pula
dewasa kaum tersebut yang belum menikah. setiap sambungan yang dihubungkan oleh
Rumah adat ini memiliki keunikan bentuk pasak kayu juga bergerak secara fleksibel,
arsitektur dengan bentuk puncak atapnya sehingga Rumah Gadang yang dibangun
runcing yang menyerupai tanduk kerbau secara benar akan tahan terhadap gempa.
dan dahulunya dibuat dari bahan ijuk yang Hal ini membuktikan bahwa secara fisik
dapat tahan sampai puluhan tahun, namun arsitektur, masyarakat Minangkabau telah
belakangan atap rumah ini banyak berganti mengenal cara menghindarkan diri atau
dengan atap seng. Rumah Gadang ini meminimalisasi akibat buruk dari suatu
dibuat berbentuk empat persegi panjang gempa yang mungkin terjadi.

