Page 147 - Sejarah Bencana Gempa di Sumatera
P. 147

SEJARAH BENCANA GEMPA DI SUMATERA                                    147


                mereka merancang bangunan yang tahan   pangan untuk kondisi darurat. Sejauh ini,
                gempa. Bangunan tradisional yang terbuat   banyak di antara kita menganggap tabungan
                dari bambu atau kayu umumnya tidak rusak   terbaik adalah dollar atau emas. Sejarah
                diguncang gempa karena bahan bangunan   memberikan  pelajaran.  Di  Minangkabau,
                itu  mempunyai  sifat  lentur  terhadap   nenek moyang yang eksis di Bukit Barisan
                guncangan. Selain itu fondasi bangunan,   sejak jaman dahulu sudah meletakkan
                ikatan tiang, dan pasak pada kayu diatur   fondasi mitigasi bencana. Selain rumah
                sedemikian rupa sehingga bisa lentur saat   gadang sebagai tempat tinggal yang akrab
                terjadi guncangan.                   dengan bencana, bagian dari kompleknya,
                   Kearifan lokal kini secara tidak sadar   rangkiang, mengandung filosofi mitigasi.
                mulai ditinggalkan masyarakat. Karena ingin      Rangkiang yang melambangkan
                mengikuti mode zaman, bangunan rumah   kemakmuran terdiri atas bermacam jenis.
                pun dibuat dari bata atau beton. Mereka   Apapun  jenisbangunan  ini  terkait  erat
                hanya memperhitungkan segi estetis   dengan ketahanan pangan, kesinambungan
                tanpa memerhatikan aspek keamanannya.   kehidupan pertanian dan penghormatan
                Dampak dari diabaikannya kearifan lokal   terhadap pihak-pihak yang dimuliakan.
                ini boleh dibilang cukup fatal. Saat terjadi   Tidak hanya untuk kepentingan ekonomi,
                gempa bumi di Sumatera Barat, September   rangkiang dibangun tidak hanya untuk
                2009, misalnya, ribuan orang tewas dan   kepentingan ekonomi, melainkan termuat
                ratusan bangunan hancur. Korban tewas   pula nilai-nilai politik-sosial-budaya.
                umumnya karena tertimpa bangunan bata      Setiap rumah gadang memiliki rangkiang
                atau bangunan beton yang runtuh.     yang berderet di halaman depan. Nama
                   Secara turun temurun, masyarakat di   Rangkiang berasal dari kata ruang hyang
                wilayah Minangkabau sebenarnya telah   yaitu ruang untuk Dewi Sri, dewi padi. Ada
                memahami konsep mitigasi dan tanggap   tujuh macam rangkiang sesuai dengan fungsi
                bencana. Khususnya untuk tiga kebutuhan   padi yang tersimpan di dalamnya.
                pokok, sandang, pangan dan papan.       Pertama,  si  miskin  pergi  menunggu,
                Mengerucut untuk kebutuhan perut alias   lumbung untuk berhemat.
                pangan, konsep tersebut terlihat dari      Kemudian, si majo kayo, lumbung
                keberadaan rangkiang sebagai Doomsday   untuk persiapan pesta. Berikutnya, mandah
                Vault atau kubah kiamat. Sebuah bangunan   pahlawan (rangkiang kaciak), fungsinya untuk
                sangat kuat yang dibangun di kutub utara   menyimpan padi abuan (benih). Kemudian,
                untuk menyimpan biji-bijian dari seluruh dunia.   fungsi ini juga menjamin kesinambungan
                    Ketika bencana terjadi, sadar atau tidak,   persediaan untuk pengerjaan sawah musim
                kita merasakan ketidaksiapan sebagai   berikutnya. Rangkiang ini rendah, tidak
                wujud ikhtiar. Bagaimana tidak, belum   bergonjong, dan ada kalanya berbentuk
                setengah hari bencana terjadi, semua aspek   bundar.
                kehidupan lumpuh. Anak-anak, orang tua      Ada  juga rangkiang sitinjau  lauik.
                cepat merasakan dampak langsung dari   Fungsinya, sebagai persiapan jika menjamu
                ketidaksiapan tersebut. Kenapa hal ini bisa   tamu dan membeli barang kebutuhan yang
                terjadi, karena kita tidak memiliki cadangan   tidak dapat diproduksi sendiri. Terdiri dari
   142   143   144   145   146   147   148   149   150   151   152