Page 151 - Sejarah Bencana Gempa di Sumatera
P. 151
SEJARAH BENCANA GEMPA DI SUMATERA 151
tradisional yang aman gempa dan tidak Mamutiah Durian, Parak, Menanam Tanaman
gampang roboh. Seperti kata Jajang Keras sebelum Nikah, Goro Basamo dan
Pamuncak di iklan-iklan televisi, bukan masih banyak lagi yang lainnya.
gempanya, tapi bangunannya.
Rimbo Larangan (Hutan Larangan )
Kearifan Lokal dan Konsep Bangunan Aman Yaitu hutan yang menurut aturan adat tidak
Gempa boleh ditebang karena fungsinya yang
Rentetan gempa besar yang melanda wilayah sangat vital sekali sebagai persediaan
Sumatera Barat belakangan ini telah merubah air sepanjang waktu untuk keperluan
kesadaran kita tentang hidup di wilayah ini. masyarakat, selain itu kayu yang tumbuh
Di balik kekayaan dan keindahannya ternyata dihutan juga dipandang sebagai perisai
menyimpan potensi bencana atau gejala untuk melindungi segenap masyarakat yang
alam yang besar, baik banjir, longsor, gempa bermukim disekitar hutan dari bahaya tanah
sampai dengan ancaman tsunami. longsor. Apabila ada terdapat diantara
Potensi bencana sungguh tidak akan warga yang akan membuat rumah yang
pernah menyurutkan semangat penduduknya membutuhkan kayu, maka harus minta izin
untuk terus bertahan hidup dan membangun lebih dulu kepada aparat Nagari melalui
ranah ini. Bagaimana dengan nenekmoyang para pemangku adat untuk menebang kayu
kita yang telah menjalaninya sejak beratus- yang dibutuhkan dengan peralatan Kapak
ratus tahun yang lalu. Tentu kita perlu kembali dan Gergaji tangan.
menafsir ulang kearifan lokal yang mereka
bangun dan wariskan, sehingga kita mampu Banda Larangan (Sungai, Anak Sungai / Kali
bertahan sampai sekarang. Bangunan, Larangan)
rumah atau apapun bentuk lingkungan Merupakan suatu aliran sungai yang tetap
binaan adalah hasil proses adaptasi manusia dijaga agar tidak tercemar dari bahan atau
dengan alam sepanjang masa kehidupannya. benda yang bersifat dapat memusnahkan
Sepanjang itu pula dilahirkan kemampuan, segenap binatang dan biota lainnya yang
kecerdasan dan strategi untuk bersahabat ada di aliran sungai sehingga tidak menjadi
dengan alam, yang kemudian dikenal sebagai punah, seperti halnya warga masyarakat
kearifan lokal. tidak boleh menangkap ikan dengan cara
Pengeboman, memakai racun, memakai
Kearifan lokal lainnya di Sumatera Barat aliran listrik dan lain sebagainya. Untuk
Di Propinsi Sumatera Barat, disamping panen Ikan dari Banda Larangan tersebut,
kearifan local menghadapi bencana pihak Pemangku Adat dan Aparat Nagari
gempabumi juga terdapat beberapa jenis melaksanakan dengan cara membuka
Kearifan Lokal lain yang berkaitan dengan larangan secara bersama-sama masyarakat
bencana lingkungan seperti bagaimana untuk kepentingan bersama dan hasilnya
masyarakat adat ternyata bisa menjaga selain untu masyarakat juga sebahagian
lingkungan tetap lestari seperti pengelolaan untuk KAS Nagari. Biasanya Banda Larangan
Hutan Tanah dan Air diantaranya Rimbo ini dibuka sekali setahun atau sekali dua tahun
Larangan, Banda Larangan, Tabek Larangan, tergantung kesepakatan Para Pemangku Adat.

