Page 152 - Sejarah Bencana Gempa di Sumatera
P. 152
152 JEJAK KEARIFAN LOKAL DALAM MITIGASI BENCANA GEMPA DI DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT
Tabek Larangan (tebat larangan) yeng terbuat dari kayu. Peristiwa Bencana
Yaitu Kolam air yang dibuat secara bersama Gempa di Wilayah Bengkulu telah
oleh masyarakat pada zaman dulu dengan menimbulkan kerusakan di permukiman
tujuan untuk persediaan air bagi kepentingan penduduk terutama bangunan-bangunan
masyarakat dan didalam Tabek tersebut juga yang terbuat dari konstruksi beton.
dipelihara berbagai jenis ikan, saat untuk Sementara rumah yang terbuat dari kayu,
membuka Tabek Larangan tersebut sama seperti rumah tradisional yang banyak
dengan seperti di Banda Larangan. tersebar di daerah pedesaan di Kabupaten-
kabupaten di Bengkulu, tidak mengalami
Mamutiah durian ( memutih durian ) kerusakan yang begitu parah, bahkan
Yaitu kegiatan menguliti pohon durian sebagian besar tetap berdiri kokoh.
apabila kedapatan salah seorang warga Masyarakat Bengkulu di pedesaan umumnya
masyarakat pemilik pohon durian yang membangun rumah yang terbuat dari kayu.
memanjat dan memetik buah durian Bangunan rumah rakyat yang terbuat dari
sebelum durian itu matang, hal itu dilakukan bahan kayu yang sering disebut dengan
sebagai sanksi moral bagi masyarakat yang bangunan vernakuler adalah rumah yang
melakukannya karena dipandang tidak dibangunan berdasarkan pengetahuan
mempunyai rasa sosial antar sesama. Setelah yang diwariskan secara turun temurun
pohon Durian dikuliti maka secara berangsur (ancient tradition), baik dari sisi pengetahuan
1
pohon itu akan mati. Biasanya pemilik pohon maupun metodenya. Pembangunan rumah
durian akan mendapatkan hasil semenjak tradisional atau bangunan vernakuler ini
matahari terbit sampai terbenam, sedangkan merupakan rumah yang dibangun atas
disaat malam hari buah durian yang jatuh pertimbangan keselarasan dengan alam.
telah menjadi milik bersama. Bangunan Vernakuler berpegang pada
Parak yaitu suatu lahan tempat prisnip-prinsip dan cara-cara tertentu yang
masyarakat berusaha tani dimana terdapat dianut, dipahami, dan diaplikasikan oleh
keberagaman jenis tanaman yang dapat masyarakat lokal dalam berinteraksi dan
dipanen sepanjang waktu secara bergiliran, berinterelasi dengan lingkungannya dan
sehingga pada lahan parak ini terdapat nilai ditransformasikan dalam bentuk sistem nilai
ekonomi berkelanjutan. Apabila dilihat dan norma adat. Oleh karena itulah Rumah
dari jauh, parak di pandang seolah-olah tradisional sering juga disebut rumah adat.
seperti hutan dan juga berfungsi sebagai Rumah adat masyarakat Bengkulu yang
penyangga untuk wilayah dibawahnya. dibangun dengan bahan kayu merupakan
bentuk ekspresi kehidupan yang harmoni
KEARIFAN LOKAL DALAM MENGHADAPI dengan bahaya bencana seperti gempa
GEMPA DI BENGKULU (living harmony with risk). Dalam hal ini
Ada beberapa kearifan lokal (Local wisdom) masyarakat Bengkulu sudah lama mengenal
yang dimiliki oleh masyarakat Bengkulu
1 Gutierrez, Jorge, “Note on the Seismic Adequacy
dalam mitigasi bencana gempa bumi.
of Vernacular Buildings”, 13th World Conference
Salah satunya adalah bentuk permukiman
on Earthquake Enginering. Vancouver. B.C. Can-
penduduk yang umumnya rumah panggung ada August 1-6 2004, Paper No. 5011.

