Page 226 - BUKU SOSIOLINGUISTIK DAN PENGAJARAN BAHASA
P. 226

Pemertahanan dan Penelitian Bahasa                                   215

                                    Tabel 9. Panggilan untuk Orang Bali
                                Kakek                           Paka

                               Nenek                          Dadong
                                Ayah                     Bapa dibaca Bape
                                 Ibu                           Meme

                           Kakak laki-laki                       Bli
                         Kakak perempuan                       Mbok

                                 Adik                            Adi

                        Untuk orang bali yang sudah menikah biasanya di panggil Pak
                  disertai  namanya.  Misalnya  Pak  ngah,  Pak  yan,  Mbok  yan,  dan
                  Mbok ngah, dan yang belum menikah dipanggil dengan Bli yan, Bli
                  ngah, Mbok yan dan Mbok ngah.
                        Di dalam bahasa Jawa juga memiliki sebutan yang lebih rumit
                  dibandingkan  dengan  bahasa  Indonesia.  Bahasa  Jawa  mengenal
                  kata  ‗paklik‘,  ‗bulek‘,  ‗pakde‘,  ‗bude‘  ‗mbah  kakung‘,  mbah  putri‘,
                  ‗mbah  buyut‘,  ‗mas‘  dan  ‗mbak‘  yang  lebih  kurang  maksunya  di
                  dalam  bahasa  Indonesia  adalah  ‗paman  yang  lebih  muda‘,  ‗bibi
                  yang  lebih  muda‘,  ‗paman  yang  lebih  tua‘,  ‗bibi  yang  lebih  tua‘,
                  ‗kakek‘,  ‗nenek‘  dan  ‗satu  generasi  di  atas  kakek  atau  nenek‘,
                  ‗kakak laki-laki‘ dan ‗kakak perempuan‘. Karena arti kata mengenai
                  kekerabatan  di  dalam  bahasa  ini  terkadang  rumit  untuk  dicari
                  padanan  yang  pas,  maka  tidak  jarang  kata-kata  tersebut  tidak
                  dirubah  penyebutannya  ketika  berkomunikasi  di  dalam  bahasa
                  Indonesia.  Panggilan  yang  ditujukan  kepada  anggota  keluarga
                  Jawa jauh lebih membingungkan lagi. Contohnya kata ‗mas‘ (kakak
                  laki-laki), dan ‗mbak‘ (kakak perempuan) sangat bergantung pada
                  konteks.  Ketika  orang  tua  memanggil  anak  yang  lebih  tua  dari
                  saudaranya  bisa  mengatakan  ―Mas  jangan  nakal  yah,  ibu  mau
                  pergi  ke  depan  sebentar‖.  Padahal  kata  ‗mas‘  di  sini  bukanlah
                  kakak laki-laki dari sang ibu. Namun di sisi lain, seorang ibu bisa
                  mengatakan  kepada  suaminya:  ―Mas  sudah  telpon  pak  lurah
                  belum?‖.  Kata  ‗mbak‘  juga  bisa  ditujukan  kepada  seorang  anak
                  perempuan  yang  lebih  tua  usia  daripada  saudara  kandungnya.
                  Misalnya  orang  tua  mengatakan  kepada  anaknya:  ―Mbak,  jangan
                  lupa  temenin  dedek  supaya  bisa  cepat  tidur  ya.‖  Namun  ketika
                  misalnya  seorang  ayah  atau  ibu  memilki  saudara  kandung
                  perempuan yang lebih tua juga disebut ‗mbak‘.
   221   222   223   224   225   226   227   228   229   230   231