Page 116 - Cooperative Learning
P. 116

106                                                               BAB 4


               membantu  rekan  sekelompoknya  mencapai  tujuan  pembelajaran.
               Sejalan  dengan  dengan  pendapat  tersebut,  Slavin  (1994:  89.)
               menyatakan  bahwa  pembelajaran  kooperatif  ini  mengacu  pada
               strategi  pembelajaran  dengan  pengelompokan  kecil  yang  terdiri
               atas empat pelajar dengan kemampuan yang berbeda untuk saling
               membantu dalam kegiatan belajar.
                     Berdasarkan  pendapat  para  ahli  di  atas  dapat  disimpulkan
               bahwa pembelajaran kooperatif merupakan  metode pembelajaran
               memberikan kesempatan sebesar-besarnya agar para siswa terlibat
               di  dalam  aktivitas  secara  berpasangan  maupun  berkelompok.
               Anggota setiap kelompoknya bisa terdiri dari empat orang. Setiap
               peserta  kelompok  diberi  kepercayaan  untuk  bisa  belajar  sendiri
               dengan  aktif  dan  penuh  semangat,  di  mana  individu-individunya
               diarahkan  untuk  aktif  dan  bersemangat,  serta  saling  memotivasi

               antara siswa satu dengan siswa lainnya.
                     Pembelajaran kooperatif dirancang untuk mendorong peserta
               didik  bekerja  sama  bukan  berkompetisi.  Hal  tersebut  bertujuan
               untuk     mengembangkan         keterampilan     berpikir   kritis   dan
               mengembangkan  keterampilan  komunikatif  melalui  kegiatan
               interaksi  sosial  yang  terstruktur.  Johson  &  Johson  (dalam  Huda,
               2014:  46—57)  mengemukakan  lima  unsur  penting  dalam
               pembelajaran  kooperatif  sebagai  berikut.  Pertama,  interpedensi
               positif  (positive  interpedence).  Dalam  suasana  pembelajaran
               kooperatif,  siswa  harus  bertanggung  jawab  pada  dua  hal,  yakni:
               mempelajari materi yang ditugaskan dan memastikan bahwa semua
               anggota kelompok juga mempelajari materi tersebut. Istilah teknis
               dari  dua  tanggung  jawab  inilah  yang  disebut  interpedensi  positif.
               Kedua, Interaksi promotif (promotive interaction). Interaksi promotif
               dapat  didefinisikan  sebagai  suatu  interakasi  dalam  kelompok  yag
               saling  mendorong  dan  membantu  anggota  lain  dalam  usaha
               mereka  untuk  mencapi,  menyelesaikan,  dan menghasilkan  sesuatu
               untuk tujuan bersama. Interaksi promotif ini muncul ketika anggota
               kelompok saling memberikan bantuan yang efektif dan efisien bagi
               anggota-anggota lainnya yang membutuhkan.
                     Ketiga,  akuntabilitas  individu  (individual  accountability).  Pada
               hakikatnya     tujuan   pemebelajaran      kooperatif    selain   untuk
   111   112   113   114   115   116   117   118   119   120   121