Page 195 - Cooperative Learning
P. 195

Implementasi Cooperative Learning di Tingkat SMP                     185

                  learning  adalah  menciptakan  situasi  dimana  keberhasilan  individu
                  ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya.
                        Model  cooperative  learning  adalah  salah  satu  pola  mengajar
                  dengan  jalan  melatih  siswa  dalam  menghadapi  masalah.  Setiap
                  siswa  dilatih  untuk  memecahkan  masalah  baik  sendiri  maupun
                  bersama-sama, dengan cara mengerahkan segala kemampuan yang
                  dimiliki peserta didik dalam bentuk pikiran, kemauan, perasaan serta
                  semangat  untuk  mengetahui  pemecahannya  sampai  pada  suatu
                  kesimpulan yang diharapkan. Cooperative learning dengan bahasa
                  lain, adalah suatu model pembelajaran siswa yang meletakkan siswa
                  sebagai subjek pendidikan dalam memecahkan masalah.
                        Jadi dapat disimpulkan bahwa cooperative learning atau bisa
                  disebut  denganpembelajarankooperatifadalahsalah  satu  model
                  pembelajaran yang   bertujuan untuk meningkatkan minat belajar,

                  perhatian,  kemampuan  interpersonal  dan  prestasi  belajar  siswa.
                  Model  pembelajaran  ini  dapat  mendorong  siswa  untuk  saling
                  membantu antar teman kelompok dan menciptaka nsuasana belajar
                  yang  kondusif,  aktif  dan  penuh  kegembiraan  dalam  memecahkan
                  suatu masalah.

                     B. Ciri-Ciri Cooperative Learning
                        Menurut  James  A.  Duplass  (2006),  berikut  ini  adalah  yang
                  paling sering ditemukan ciri-ciri cooperative learning:
                     1. Anggota kelompok bekerja menuju satu tujuan bersama (yaitu
                        penyelesaian  organizer  grafis,  menciptakan  sebuah  poster,
                        membaca cerita).
                     2. Setiap  anggota  kelompok  ditugaskan  satu  peran  untuk
                        memastikan  akuntabilitas  (yaitu  bahan,  ilustrator,  reporter,
                        perekam).
                     3. Batasi  siswa  menggunakan  bahan  untuk  membuat  perlunya
                        bekerja sama (yaitu satu gunting, selembar kertas).
                     4. Memberikan siswa satu ruang tertentu di mana untuk bekerja
                        sama.
                     5. Pengawasan guru, harus selalu memantau kegiatan kelompok
                        untuk  memastikan  siswa  tidak  membelok  terlalu  jauh  dari
   190   191   192   193   194   195   196   197   198   199   200