Page 235 - Cooperative Learning
P. 235
Implementasi Cooperative Learning di Tingkat SMP 225
8) Perlu dikembangkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat
terbuka, yang mengarah pada kegiatan yang dilakukan siswa.
9) Adanya catatan guru meliputi penjelasan tentang hal-hal yang
sulit dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil,
terutama penyelidikan yang mengalami kegagalan atau tidak
berjalan sebagaimana seharusnya.
E. Berpikir Kritis
Jhonson dalam Jufri (2012: 44) mengemukakan bahwa
keterampilan berpikir dapat dibedakan menjadi berpikir kritis dan
nerpikir kreatif. Kedua jenis kemampuan berpikir ini disebut sebagai
keterampilan berpikir tingkat tinggi. Berpikir kritis merupakan
proses mental yang terorganisir dengan baik dan berperan dalam
proses mengambil keputusan untuk memecahkan masalah dengan
menganalisis dan menginterpretasi data dalam kegiatan inkuiri
ilmiah.
Kerangka konseptual
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan variabel bebas
yaitu penerapan model pembelajaran kooperatiftipe Numbered
Heads together pada model pembelajaran guided discoveryserta
satu variabel kontrol. Variabel terikatnya yaitu kemampuan berpikir
kritis siswa dinilai dari hasil belajar kognitif siswa, apakah ada
pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe
numbered heads together pada model pembelajaran guided
discovery dengan model pembelajaran guided discovery saja.
Sedangkan variabel kontrolnya adalah materi dari kurikulum yang
sama dan penempatan kelas yang sama.
Kerangka konseptual ini menjelaskan bahwa proses
pembelajaran berlangsung karena adanya interaksi antara guru
dengan siswa yang saling mempengaruhi satu sama lain. Pada kelas
eksperimen guru menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe
numbered heads together pada model pembelajaran guided
discovery, sedangkan pada kelas control guru menerapkan model
pembelajaran guided discovery. Kelas yang menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe numbered heads together pada

