Page 242 - Cooperative Learning
P. 242
232 BAB 5
dari penggunaan metode yang sesuai dengan karakteristik peserta
didik. Sampai saat ini metode yang masih sering digunakan oleh
guru dalam proses pembelajaran masih bersifat konvensional.
Metode pembelajaran tersebut hanya menekankan pada aspek
ceramah kemudian memberikan tugas dan hanya dikerjakan secara
individualis tanpa ada tindakan lebih yang dapat membantu siswa
untuk bernalar.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh penulis
terhadap guru bahasa Indonesia di Sekolah Islam Terpadu (SIT) Al-
Bina Kab. Luwu Timur Sulawesi Selatan, salah satu alasan guru
terkadang masih menerapkan pembelajaran yang sifatnya
konvensional karena metode ini dianggap praktis, tanpa
membutuhkan waktu yang lama dalam membuat rancangan
pembelajaran. Tetapi khususnya dalam penerapan Cooperative
Learning di SIT Al- Bina Kab. Luwu Timur, sudah sering diterapkan
dalam pembelajaran bahasa.
Selain permasalahan tersebut, khusus di Indonesia sistem
peringkat (rangkin) dalam pembelajaran masih terus diterapkan di
sekolah-sekolah, mulai dari yang tingkat dasar (SD) sampai pada
tingkat menengah (SMA). Sebenarnya jika ditinjau sistem ini masih
perlu dilakukan evaluasi, hal tersebut terbukti bahwasanya sistem
peringkat dalam pembelajaran membuat siswa menjadi semakin
individualis dan tentunya susah untuk bekerja sama dengan siswa
lain, dengan alasan bahwa jika banyak bekerja sama, maka
peringkat bisa saja menurun. Selain itu, masing-masing siswa
berjuang sendiri-sendiri untuk saling mendaptkan nilai terbaik,
bahkan sampai pada melakukan hal-hal yang sudah negatif demi
mendapat peringkat terbaik, misalnya mencontek pada saat
pelaksanaan ujian.
Saat ini, telah banyak dikembangkan model-model
pembelajaran yang bersifat kooperatif. Pembelajaran ini tentunya
lebih menekankan pada aspek kerja sama dan saling berbagi
pengetahuan untuk menciptakan hasil yang lebih baik. Dengan
pengembangan model-model pembelajaran yang bersifat
kooperatif tentunya diharapkan bagi setiap guru untuk senantiasa

