Page 112 - Sun Flower Full Naskah
P. 112
Samar-samar namun Hae-Seol mendengar ada seseo-
rang mengatakan itu. Tak lama dua orang pria berbadan besar
menyeret mereka. Terduduk di kursi, namun Hae-Seol bisa me-
lihat cahaya yang menembus lewat ventilasi, tidak gelap seperti
ruangan tadi.
“Kenapa kau menggagalkan rencanaku?!” tanya seo-
rang lelaki paruh baya di hadapan Hae-Seol. “Kau pasti orang
yang belum pernah merasakan ketidak-adilan,” kata lelaki itu.
Dalam perkiraan Hae-Seol, pastilah lelaki itu adalah Ayah Park
Kyung-Shin. Ia tidak tahu harus menjawab apa, ia juga tak men-
yangka dirinya akan terlibat sejauh ini.
Mengingat lagi mimpinya, Hae-Seol takut bahwa hari
ini tangannya akan membunuh seseorang seperti di mimpi itu.
Sungguh ia tak ingin mengotori tangan dengan melakukan pem-
bunuhan meski ia dalam keadaan membela diri.
“Jawab!!!” bentak lelaki di hadapan Hae-Seol yang
kemudian menendang kursi kayu tempatnya duduk. Ia pun ter-
jatuh.
“Hae-Seol…” So-Ra memilih menjatuhkan dirinya dan
mereka berdua duduk saling membelakangi. “Hae-Seol, pegang
tanganku!” kata So-Ra berbisik.
“Jawab!! Atau aku akan memukul temanmu,” lelaki itu
mencengkeram jilbab Lee So-Ra. Tidak! Hae-Seol tidak akan
membiarkan So-Ra disakiti. Hae-Seol harus menjawab, tapi ia
sungguh tak bermaksud terlibat sejauh ini.
“Joesonghapnida…” Ah, harusnya Hae-Seol tak perlu me-
minta maaf karena telah menggagalkan rencana jahat seseorang.
Tapi Hae-Seol melakukan itu agar So-Ra tidak disakiti. “Aku
tidak bermaksud menggagalkan rencanamu. Aku tidak tahu,”
jawaban itu mungkin terdengar bodoh, tapi ia benar-benar ingin
menjauhkan cengkeraman itu dari Lee So-Ra.
“Plaakk…” sebuah tamparan mendarat di wajah Hae-
Seol. Tepi bibirnya berdarah, jilbab hitam yang dikenakannya
pun lusuh. Namun Hae-Seol merasakan So-Ra menggeng-
gam tangannya dan berusaha melepas tali yang mengikat tan-
gan Hae-Seol. Sejenak berpikir sekarang Hae-Seol tahu harus
melakukan apa.
106

